"Sebelum airnya naik, saya pergi ke warung yang bertingkat," ujarnya mengenang.
"Di situ airnya naik, naik, naik. Habis itu ada tingkat, saya naik ke atas," sambungnya.
Tindakan spontan itu menyelamatkannya. Tidak lama setelah ia naik ke lantai atas, kedua orang tuanya menyusul dalam kondisi panik.
"Habis itu datang mama dan ayah saya," ceritanya.
Namun perjalanan menyelamatkan diri tidak berjalan mulus. Ia sempat terjatuh dan hampir terseret arus.
"Saya jatuh, terus ditemukan, terus dipegang kaki saya sebelum dibawa air," ungkapnya, menggambarkan situasi kritis yang hampir merenggut nyawanya.
Doa kecil dari seorang anak yang baru lolos dari maut
Meski mengalami pengalaman mengerikan, bocah itu menutup kisahnya dengan doa sederhana penuh ketulusan.
"Semoga keluarga yang ada di sini sehat selalu, mudah rejekinya selalu," tutupnya.
Kisah ini bukan hanya menggambarkan dahsyatnya banjir bandang di Aceh, tetapi juga memperlihatkan betapa beratnya dampak psikologis yang dialami anak-anak ketika berhadapan dengan bencana alam.***
Artikel Terkait
Anggota DPRD Subang H. Anharudin: Bencana Sumatera cermin kerusakan lingkungan
DPR usul bentuk kementerian khusus bencana, soroti skala musibah nasional yang kian meningkat
Bibit Siklon Tropis 93W dan 91S muncul bersamaan, BMKG peringatkan potensi hujan lebat dan gelombang tinggi
Jubir PKS desak pemerintah untuk segera menetapkan banjir-longsor Sumatera sebagai bencana nasional
Seorang ibu di Aceh Utara kehilangan suami dan putra bungsunya saat banjir bandang, sisakan kenangan sebuah foto kecil
Prediksi hujan lebat masih bayangi Sumatera Utara, BMKG jelaskan kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S
Kontroversi Ferry Irwandi vs Anggota DPR Endipat Wijaya soal aksi udunan warga Rp10 miliar untuk korban bencana Sumatera