CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 22 Juni 2025 | 23:02 WIB
Ilustrasi - Kupu-kupu hitam di langit Teheran
Ilustrasi - Kupu-kupu hitam di langit Teheran

Di bawahnya, Fordow, Natanz, dan Isfahan mulai bernyanyi. Bukan lagu ketakutan, melainkan orkestra yang aneh, perpaduan antara doa-doa kuno, desing turbin uranium, dan bisikan dari bumi itu sendiri.

Baca Juga: Trump klaim hancurkan tiga fasilitas nuklir Iran, ancam serangan lebih besar jika perdamaian ditolak

Tiba-tiba, dari kegelapan di atas sana, terdengar suara. Bukan suara mesin jet, bukan suara ledakan. Melainkan suara tawa.

Tawa yang menggelepar, tawa yang absurd. Itu tawa Trump, yang kini berdiri di puncak Gedung Putih, menghadap timur, dengan tangannya yang terentang seperti sedang memimpin sebuah orkestra.

"Bom bunker buster," teriaknya, suaranya melayang menembus awan. "Tomahawk! Mereka akan bertemu dengan Massive Ordinance Penetrator!"

Tapi di bawahnya, di tanah Iran, yang menyambut bukanlah ledakan. Melainkan jutaan kupu-kupu hitam yang tiba-tiba keluar dari lubang-lubang tanah, mengepakkan sayap mereka, membentuk awan raksasa yang menelan setiap siluet B-2, setiap rudal yang diluncurkan.

Baca Juga: Ribuan warga padati Aksi Bela Palestina di Subang, donasi terkumpul capai Rp1,14 miliar dan logam mulia

Kupu-kupu itu tidak menyerang, mereka hanya terbang, mengelilingi, sampai setiap teknologi militer itu terlihat kecil, rapuh, dan absurd di tengah gelombang kehidupan yang tak terbatas.

Khamenei tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum pengertian. "Mereka lupa," katanya, kini pada dirinya sendiri, "bahwa iman tidak bisa diledakkan. Bahwa jiwa tidak bisa ditembus."

Di kejauhan, Trump, Netanyahu, dan bayangan-bayangan perang lainnya terlihat seperti boneka-boneka kertas yang ditiup angin gurun, menari dalam opera bayangan yang tak pernah mencapai klimaksnya, di bawah bulan merah yang terus menatap, dengan mata penuh keheranan. Dan di Iran, yang tersisa hanyalah aroma melati, dan bisikan kuno dari bumi yang terus bernyanyi.

Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

CERPEN: Surat cinta untuk adinda

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39 WIB
X