esai

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis

Chairil Anwar menulis puisi bukan untuk menghibur. Ia menulis untuk menyatakan keberadaan.

Setiap lariknya seperti pernyataan sederhana tapi keras, aku ada, meski dunia tak selalu ramah, meski hidup penuh keterlemparan, meski kematian selalu menunggu di ujung.

Dalam sejarah sastra Indonesia, Chairil kerap disebut penyair Angkatan ’45. Namun pembacaan yang lebih dalam menunjukkan bahwa puisinya melampaui kategori zaman.

Ia berdiri dekat dengan satu arus besar pemikiran dunia abad ke-20, filsafat eksistensialisme.

Baca Juga: Taat pajak, PT Dahana dinilai berkontribusi besar dorong PAD dan pembangunan Subang

Eksistensialisme lahir dari kegelisahan manusia modern, tentang kebebasan, kesepian, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa hidup tidak datang dengan makna siap pakai.

Manusia, kata para eksistensialis, harus menciptakan maknanya sendiri. Dan Chairil, jauh sebelum istilah itu populer di Indonesia, telah menuliskannya dengan bahasa puisi.

Puisi 'Aku' menjadi penanda paling kuat. Aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang. Di sini, 'aku' tidak meminta pengakuan. Ia menyatakan posisi. Terbuang, tapi sadar. Sendiri, tapi memilih.

Ini adalah 'aku' eksistensial, subjek yang berdiri di hadapan dunia tanpa sandaran, namun menolak menyerah.

Baca Juga: Groundbreaking SPPG Polres Subang, sinergi Polri dan Pemda perkuat gizi serta keamanan pangan

Dalam eksistensialisme, manusia tidak ditentukan oleh sistem, sejarah, atau nasib semata. Ia ditentukan oleh keputusan. Dan Chairil menulis dengan kesadaran itu.

Puisinya bukan ratapan panjang, melainkan sikap. Bahkan ketika ia berbicara tentang luka, kematian, dan kekalahan, yang muncul bukan kepasrahan, melainkan keberanian untuk menatap kenyataan tanpa ilusi.

“Hidup hanya menunda kekalahan,” tulisnya dalam Derai-Derai Cemara. Kalimat ini sering dibaca sebagai pesimisme. Padahal, dalam kacamata eksistensialisme, ini justru kejujuran radikal.

Hidup memang terbatas. Manusia memang akan kalah oleh waktu. Tapi justru karena itu, hidup menuntut kesungguhan. Makna lahir bukan dari keabadian, melainkan dari kesadaran akan kefanaan.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB