esai

ESAI: Puisi yang tertukar kuburnya

Minggu, 13 Juli 2025 | 21:46 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

"Jadi, intinya ini... puisi cinta seorang lebah?" tanya Chairil, mencoba mencerna.

Baca Juga: Istana tanggapi isu WNI diimbau cari kerja ke luar negeri: Ada opsi menarik yang patut diambil

"Betul," kata lebah itu sambil menggosok-gosok kakinya. "Dan 'Matinya Puisi di Bulan Juni' itu karena... saya sempat lupa di mana saya meletakkan puisi itu. Jadi, penyairnya mengira puisi itu mati. Padahal cuma tertukar kuburnya dengan kantung madu saya."

Tawa pecah di Padang Horison Sastra. Teori-teori sastra yang rumit, filsafat absurditas yang dalam, semuanya mendadak runtuh di hadapan fakta sederhana dan lucu dari seorang lebah.

Jassin melepas kacamatanya, menatap Chairil. "Tampaknya, Chairil, kita berdua perlu belajar dari lebah ini. Terkadang, ontologi puisi itu jauh lebih sederhana dari yang kita duga. Mungkin hanya terselip di antara dua ketiak ide yang keliru."

Chairil tertawa, menepuk bahu Jassin (yang untungnya tidak jebol).

Baca Juga: Penunjukan 24 calon Dubes oleh Prabowo, Istana: Ada banyak pertimbangan strategis

"Betul, Jassin. Kita ini terlalu serius. Puisi itu seperti lebah, kalau dia hilang, jangan dicari di buku teori. Cari saja di dalam sajadah tua, atau di antara lipatan hati yang sedang rindu."

Dan sejak hari itu, perdebatan di Padang Horison Sastra menjadi sedikit lebih ringan, diwarnai tawa geli tentang lebah yang jatuh cinta dan puisi yang tertukar kuburnya.

Karena pada akhirnya, di hari ulang tahun seorang Raja Mantra, yang terpenting bukanlah kerumitan makna, melainkan kebahagiaan menemukan puisi, bahkan jika itu hanya dalam kelucuan yang paling absurd sekalipun.

Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

 

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB