esai

ESAI: Paus Leo XIV dan harapan perdamaian untuk Gaza

Minggu, 25 Mei 2025 | 13:22 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi lebih intensif dan gerakan yang lebih nyaring agar suara-suara tersebut dapat terdengar, bahkan penting agar menjadi kebijakan pemerintah.

Jika kita lihat respons Paus Leo XIV sebelumnya terhadap ketidakadilan, ia menunjukan sikap kritis-konstruktif.

Ia misalnya pernah mengkritisi kebijakan imigrasi ketat dan vokal dalam mengkritisi kebijakan deportasi massal imigran AS di masa kepresidenan Trump.

Baca Juga: Istana tanggapi isu reshuffle kabinet, tegaskan Prabowo rutin evaluasi kinerja

Krisis Gaza yang terus berlangsung sampai sekarang, bukan semata isu politik atau konflik teritorial. Akan tetapi, itu merupakan tragedi kemanusiaan yang menuntut kehadiran suara-suara nurani.

Di sinilah peran Paus Leo XIV menjadi penting—bukan untuk menawarkan solusi politis, melainkan untuk mengingatkan dunia bahwa di atas semua kepentingan, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tak boleh dikompromikan.

Di depan puluhan ribu orang yang memadati Lapangan Santo Petrus, Paus Leo XIV menyampaikan kalimat penting, yakni 'semoga damai menyertai kalian' dan mendesak orang-orang untuk 'membangun jembatan melalui dialog, melalui perjumpaan, untuk bersatu sebagai satu umat, selalu dalam damai.'

Baca Juga: KORPRI usul batas usia pensiun ASN diperpanjang hingga 70 tahun, Istana: Belum dibahas

Di Gaza, komunitas Kristiani menyambut gembira terpilihnya Paus Leo XIV dan mereka yakin bahwa Paus baru dapat meneruskan perjuangan Paus sebelumnya untuk perdamaian Gaza dan Palestina secara umum.

Kita berharap semoga di bawah kepemimpinan Paus Leo XIV, Vatikan memainkan peran pentingnya dalam diplomasi keagamaan dengan bersinergi dengan berbagai kekuatan religius di dunia untuk menciptakan dunia yang damai dan adil.

Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB