esai

ESAI: Hari pendidikan dan kesadaran kasta: Mencari letak jati diri

Jumat, 2 Mei 2025 | 09:45 WIB
Ilustrasi - seorang pendidik

Mereka memandang guru yang sederhana sebagai gagal, dan memuliakan selebritas Instagram yang kaya dari konten-konten kosong.

Dalam struktur sosial seperti ini, pertanyaan Aldiano adalah cermin: apakah kita benar-benar memahami siapa yang seharusnya kita hormati?

Sayangnya, kita hidup di zaman di mana setiap orang ingin menjadi apa saja, kecuali dirinya sendiri. Yang bukan pemikir, bicara seolah bijak. Yang tidak pernah membaca, menghakimi seolah ahli. Yang seharusnya berdagang, malah ingin menjadi pejabat. Yang seharusnya mendidik, sibuk jadi pedagang.

Dunia menjadi terbalik. Thomas Eliot pernah menulis, “We had the experience but missed the meaning.” Kita mengalami kemajuan ekonomi dan teknologi, tapi kehilangan arah moral dan kebijaksanaan.

Baca Juga: Momen peserta aksi Hari Buruh semangat bersorak usai nama Seskab Teddy disebut Prabowo: Yang presiden gue nih!

Maka, bukan hanya sistem sosial yang kacau, tapi juga pendidikan yang kehilangan tujuan esensialnya.

Pendidikan nasional, dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional ini, seharusnya tidak hanya diukur dari hasil ujian, akreditasi, atau indeks literasi.

Pendidikan harus berani bertanya: Apakah murid-murid kita sedang tumbuh menjadi manusia? Apakah mereka sedang disiapkan untuk mengenal jati diri mereka, dan bukan sekadar dipaksa menghafal daftar profesi berpenghasilan tinggi?

Jika demikian, maka pertanyaan Aldiano tidak perlu dijawab dengan marah. Ia justru perlu dirayakan sebagai momen pencerahan. Sebab, seperti kata Nietzsche, “Semua kebenaran yang agung dimulai sebagai penghujatan.”

Baca Juga: Salah satunya polemik PHK massal, ada 6 tuntutan buruh dalam aksi memperingati Hari Buruh, Pemerintah: Beberapa sudah kita kerjakan

Pertanyaan Aldiano mungkin tampak sinis, tapi ia membuka ruang kesadaran baru: bahwa tidak semua orang harus menjadi kaya, dan tidak semua yang tidak kaya adalah gagal.

Yang gagal adalah mereka yang tidak tahu siapa dirinya, yang menempati posisi yang bukan tempatnya, dan akhirnya merusak sistem harmoni semesta. 

Kita butuh lebih banyak kesadaran kasta, bukan sebagai sistem sosial, tetapi sebagai sistem spiritual. Agar para brahmana tetap menjaga cahaya pengetahuan. Para ksatria tetap menjaga keadilan.

Para waisya menggerakkan roda ekonomi. Dan para sudra diberdayakan agar naik ke tingkatan kesadaran yang lebih tinggi. Semua berada pada tempatnya. Semua tahu siapa dirinya.

Baca Juga: Prabowo kaget drone bisa tabur benih 25 hektare sehari, petani di Jabar ini pernah keluhkan harga sewanya yang tinggi

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB