Mereka memandang guru yang sederhana sebagai gagal, dan memuliakan selebritas Instagram yang kaya dari konten-konten kosong.
Dalam struktur sosial seperti ini, pertanyaan Aldiano adalah cermin: apakah kita benar-benar memahami siapa yang seharusnya kita hormati?
Sayangnya, kita hidup di zaman di mana setiap orang ingin menjadi apa saja, kecuali dirinya sendiri. Yang bukan pemikir, bicara seolah bijak. Yang tidak pernah membaca, menghakimi seolah ahli. Yang seharusnya berdagang, malah ingin menjadi pejabat. Yang seharusnya mendidik, sibuk jadi pedagang.
Dunia menjadi terbalik. Thomas Eliot pernah menulis, “We had the experience but missed the meaning.” Kita mengalami kemajuan ekonomi dan teknologi, tapi kehilangan arah moral dan kebijaksanaan.
Maka, bukan hanya sistem sosial yang kacau, tapi juga pendidikan yang kehilangan tujuan esensialnya.
Pendidikan nasional, dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional ini, seharusnya tidak hanya diukur dari hasil ujian, akreditasi, atau indeks literasi.
Pendidikan harus berani bertanya: Apakah murid-murid kita sedang tumbuh menjadi manusia? Apakah mereka sedang disiapkan untuk mengenal jati diri mereka, dan bukan sekadar dipaksa menghafal daftar profesi berpenghasilan tinggi?
Jika demikian, maka pertanyaan Aldiano tidak perlu dijawab dengan marah. Ia justru perlu dirayakan sebagai momen pencerahan. Sebab, seperti kata Nietzsche, “Semua kebenaran yang agung dimulai sebagai penghujatan.”
Pertanyaan Aldiano mungkin tampak sinis, tapi ia membuka ruang kesadaran baru: bahwa tidak semua orang harus menjadi kaya, dan tidak semua yang tidak kaya adalah gagal.
Yang gagal adalah mereka yang tidak tahu siapa dirinya, yang menempati posisi yang bukan tempatnya, dan akhirnya merusak sistem harmoni semesta.
Kita butuh lebih banyak kesadaran kasta, bukan sebagai sistem sosial, tetapi sebagai sistem spiritual. Agar para brahmana tetap menjaga cahaya pengetahuan. Para ksatria tetap menjaga keadilan.
Para waisya menggerakkan roda ekonomi. Dan para sudra diberdayakan agar naik ke tingkatan kesadaran yang lebih tinggi. Semua berada pada tempatnya. Semua tahu siapa dirinya.