Di tengah kegaduhan dunia modern yang menjadikan kekayaan sebagai tolok ukur keberhasilan tunggal, kesadaran tentang struktur batin seperti ini telah hilang.
Seorang raja haruslah juga seorang filsuf sekaligus ksatria. Plato dalam Republic mengingatkan bahwa kehancuran negara dimulai ketika para pedagang (waisya) mengambil alih peran para filsuf dan penjaga (ksatria).
“Jika para filsuf tidak menjadi raja, atau para raja tidak sungguh-sungguh memfilosofikan hidup, maka bencana adalah kepastian.”
Kini, kita hidup dalam masyarakat yang pemimpinnya tidak berjiwa ksatria dan para pendidik dipaksa bermental pedagang.
Baca Juga: Viral siswa ngeluh gegara pergi sekolah jalan kaki, Dedi Mulyadi: Jagoan pantang minta bantuan
Betapa ironis. Seorang guru kini tidak cukup hanya bijaksana. Ia juga dituntut pandai menjual jasa, membranding dirinya, dan ikut serta dalam pasar bebas pendidikan.
Padahal, seperti diungkapkan Ivan Illich dalam Deschooling Society, ketika pendidikan menjadi komoditas, maka guru kehilangan martabat sebagai penjaga nurani masyarakat dan hanya menjadi pelayan dari sistem produksi manusia terstandar.
Pendidikan pun kehilangan rohnya, menjadi pabrik penghasil 'tenaga kerja' dan bukan 'manusia seutuhnya'.
Saya katakan kepada Aldiano, bahwa menjadi guru bukan jalan untuk kaya raya, tetapi jalan untuk memperkaya jiwa.
Baca Juga: Petuah Dedi Mulyadi di Hari Buruh 2025: Ingin petani hidup makmur, negara gercep bantu warga miskin
Bahwa hidup seorang guru—dan seharusnya juga dokter, seniman, ilmuwan, dan pendeta—bukanlah hidup dalam logika akumulasi materi, tapi pengabdian.
Seorang guru yang terobsesi dengan kekayaan akan membawa pendidikan menuju jurang komersialisasi yang menindas, sebagaimana seorang dokter yang haus materi akan menjadikan kesehatan sebagai hak eksklusif kaum kaya. Ketika brahmana menjadi waisya, sistem akan runtuh.
Namun, siapa yang bisa disalahkan ketika masyarakat menilai keberhasilan dari jumlah mobil dan rumah mewah?
Masyarakat yang kehilangan kesadaran ini tidak hanya salah memilih pemimpin, tetapi juga salah menakar tentang keberadaan guru.