Baca Juga: Kesaksian warga Bekasi cium bau gas, PGN pastikan tak ada kebocoran pipa: Sudah tidak tercium
Jika Madiun ingin membangun iklim musikal yang sehat, maka ia harus memulai dari moralitas: kejujuran dalam penilaian, keterbukaan dalam apresiasi, dan kepercayaan pada potensi lokal.
Ketika musisi bisa bermusik tanpa dibebani ketakutan akan diskriminasi, ketika sekolah musik bisa tumbuh tanpa harus tunduk pada selera pasar semata, ketika sound system dan studio rekaman lokal bisa menjadi bagian dari ekosistem berkelanjutan, saat itulah musik di Madiun tak hanya menjadi hiburan—melainkan peradaban.
Akhirnya, kita mesti bertanya dengan lebih reflektif: apakah musik di kota ini sekadar ajang perlombaan, ataukah ia bisa menjadi nadi kehidupan sosial yang mempersatukan?
Apakah kita masih memandang genre sebagai kasta, ataukah kita siap membuka telinga dan hati terhadap semua warna nada yang mungkin selama ini terpinggirkan?
Dan, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, bisakah musik menjadi satu-satunya bahasa yang menyatukan, bukan memisahkan.
Karena pada akhirnya, suara-suara itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu, tempat, dan keberanian untuk didengar kembali.
Fileski Walidha Tanjung, seorang penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, dan prosa di berbagai media nasional