Ketika perbedaan ini tidak diurai dengan dialog terbuka, band hanya menjadi kendaraan sementara, bukan rumah yang bisa tumbuh bersama.
Ini adalah ironi yang mengingatkan kita pada pemikiran Jean-Paul Sartre: kebebasan manusia adalah beban, dan dalam seni, kebebasan itu bisa saling menindas jika tak disertai tanggung jawab eksistensial.
Pemerintah Kota Madiun sejatinya punya visi yang mulia ketika menghadirkan Pahlawan Street Centre (PSC).
Dengan wajah arsitektural yang modern, PSC dibayangkan menjadi panggung urban yang menyatu dengan denyut kehidupan warganya.
Di sana, musik jalanan bisa tumbuh seperti yang kita lihat di kota-kota seni dunia—Paris dan New York. Namun, kenyataan berkata lain.
Musisi lokal yang mencoba mengisi ruang publik justru digeser, mungkin dinilai tak layak tampil, mungkin terhambat persoalan perizinan, atau ketentuan estetika yang kabur.
Padahal, seperti kata Jacques Rancière dalam The Politics of Aesthetics, ruang seni adalah medan persepsi: siapa yang boleh bersuara, dan siapa yang hanya menjadi penonton dalam kota yang mereka huni sendiri.
Dalam suatu diskusi ada kalimat dari salah seorang musisi asli Madiun yang saya tangkap, ia mengatakan, “Mengapa musisi yang menjajakan karya tanpa meninggalkan residu sampah harus hengkang, sementara pedagang asongan yang menyisakan limbah plastik dibiarkan hadir? Musik, yang tak kasat mata tapi bisa menggugah jiwa, justru dianggap lebih mengganggu dibanding aroma makanan yang belum tentu higienis. Ini bukan semata soal kebijakan, melainkan cermin dari krisis kepercayaan pada musisi lokal. Sebuah kota yang tidak percaya pada senimannya sendiri, akan kesulitan melahirkan peradaban budaya yang otentik.”
Tapi Madiun masih memiliki harapan. Ia tinggal menumbuhkan ruang perjumpaan yang sehat antara ide-ide.
Perlu sering diadakan forum diskusi, panggung terbuka, residensi seni, dan lokakarya lintas genre yang mempertemukan perbedaan tanpa ambisi dominasi.
Dalam atmosfer ini, perbedaan bukan alasan untuk membentengi diri, tetapi jembatan untuk menemukan formula baru dalam bermusik dan berkesenian.
Musik, sebagaimana dikatakan Nietzsche, adalah “hasrat terdalam dari kehendak hidup”. Ia bukan hanya tentang bunyi, melainkan tentang keberanian untuk hidup otentik.