esai

ESAI: Musik di Madiun: Antara identitas, eksistensi, dan kepercayaan

Kamis, 24 April 2025 | 12:54 WIB
Ilustrasi - Seorang musisi dan patung Merlion saling beradu nada di tepion kota, menyuarakan bagaimana identitas bisa melampaui batas geografis

Musik seharusnya menjadi rumah yang merangkul semua, bukan pagar yang membatasi siapa yang pantas berada di dalamnya.

Namun, Madiun hari ini tengah memperlihatkan gejala yang meresahkan: fragmentasi identitas musikal yang semakin mengeras, dan kepercayaan yang rapuh antara pelaku seni dan sistem yang menaunginya.

Dalam arena yang semestinya menjadi ladang tumbuh kreativitas, justru menguat penilaian-penilaian sempit yang membungkam keberagaman ekspresi.

Di balik semarak panggung lomba band yang sering menghiasi perayaan ulang tahun sekolah-sekolah, terselip realitas getir tentang ketimpangan penilaian.

Baca Juga: Pasca viral oknum ormas bakar mobil polisi, Dedi Mulyadi justru minta wali kota Depok beri perhatian ke anak-istri pelaku

Seorang peserta yang menampilkan orisinalitas, eksperimentasi, atau sentuhan khas lokal bisa tersingkir hanya karena tidak memenuhi selera juri yang telah terkunci dalam dogma genre tertentu.

Kecurangan yang lahir dari relasi personal, bukan pertimbangan estetika, menciptakan luka kolektif di hati para musisi muda.

Mereka yang datang dengan gairah untuk berbagi karya, pulang dengan perasaan gamang—bukan kalah karena karya tak layak, melainkan karena panggung telah lebih dulu disusun dengan 'kesepakatan' di belakang layar. 

Kondisi semacam ini mengingatkan kita pada kritik Theodor W. Adorno, filsuf dari mazhab Frankfurt, yang melihat bagaimana industri budaya menggiring seni menjadi komoditas yang tunduk pada nilai-nilai pasar dan kekuasaan, bukan pada esensi ekspresi itu sendiri.

Baca Juga: Kesaksian warga Bekasi cium bau gas, PGN pastikan tak ada kebocoran pipa: Sudah tidak tercium

Dalam konteks Madiun, pasar itu bukan semata ekonomi, melainkan juga pasar opini—penilaian yang sudah dibentuk oleh kelompok-kelompok dominan dalam ekosistem musik kota.

Inilah yang membuat musik sebagai ajang ekspresi berubah menjadi arena legitimasi sosial.

Konflik pun tak berhenti di panggung lomba. Ia merembet hingga ke ranah personal—ke dalam tubuh band-band di Madiun.

Sering kali para personel terpecah dalam visi yang tak kunjung berdamai: antara idealisme mencipta karya orisinal, keinginan mengejar tropi festival, atau pragmatisme ekonomi untuk menjadikan band sebagai mata pencaharian.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB