Tanggal 21 April, nyaris tiap tahun, sekolah-sekolah di Indonesia menjelma panggung kontes kostum etnik.
Anak-anak perempuan mengenakan kebaya, rambut disanggul, dilengkapi riasan lembut yang—entah sejak kapan—dikaitkan sebagai simbol kelembutan perempuan Indonesia.
Hari Kartini, demikian katanya. Tapi siapa sesungguhnya Kartini yang dirayakan itu? Dan yang lebih penting: siapa Kartini yang hilang dari narasi?
Kita telah mengurung Kartini dalam bingkai foto di dinding sekolah, mengajarkannya sebagai ikon budaya, namun menelantarkan kegelisahan intelektualnya.
Padahal, Kartini bukanlah lukisan perempuan tersenyum dengan sanggul dan kebaya.
Ia adalah seorang pemikir yang gelisah—dan keberaniannya muncul bukan dari posisi sebagai istri bupati, melainkan sebagai perempuan muda yang memilih menulis ketika berbicara dilarang, dan berpikir ketika patuh adalah satu-satunya pilihan yang ditawarkan.
Dalam surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda, Kartini menyuarakan satu hal yang mendasar: perempuan adalah manusia yang berpikir.
Ia menulis, "Saya mau belajar, agar saya menjadi manusia, seutuhnya manusia." Inilah titik berangkatnya: ia tidak menuntut menjadi tokoh.
Ia hanya ingin mengklaim kembali hak paling dasar dari seorang manusia—kebebasan berpikir dan menentukan arah hidup.
Namun, masyarakat kala itu menganggap keinginan perempuan untuk berpikir adalah bentuk pembangkangan.
Ironisnya, Kartini hidup dalam kemewahan. Ia anak bangsawan berdarah biru, bahkan memiliki garis keturunan dari Sultan Hamengku Buwono VI dan jejak kerajaan Majapahit.
Namun, alih-alih menikmati hak istimewa, ia mengalami penyangkalan identitas—baik sebagai perempuan Jawa, maupun sebagai manusia ras 'pribumi' di bawah penjajahan.