esai

ESAI: Membaca ulang surat-surat Kartini di bawah tumpukan kebaya

Senin, 21 April 2025 | 15:03 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Tanggal 21 April, nyaris tiap tahun, sekolah-sekolah di Indonesia menjelma panggung kontes kostum etnik.

Anak-anak perempuan mengenakan kebaya, rambut disanggul, dilengkapi riasan lembut yang—entah sejak kapan—dikaitkan sebagai simbol kelembutan perempuan Indonesia.

Hari Kartini, demikian katanya. Tapi siapa sesungguhnya Kartini yang dirayakan itu? Dan yang lebih penting: siapa Kartini yang hilang dari narasi?

Kita telah mengurung Kartini dalam bingkai foto di dinding sekolah, mengajarkannya sebagai ikon budaya, namun menelantarkan kegelisahan intelektualnya.

Baca Juga: Setelah berhenti beroperasi karena rugi Rp1 miliar, dapur MBG Kalibata kembali beroperasi, dari mana dananya?

Padahal, Kartini bukanlah lukisan perempuan tersenyum dengan sanggul dan kebaya.

Ia adalah seorang pemikir yang gelisah—dan keberaniannya muncul bukan dari posisi sebagai istri bupati, melainkan sebagai perempuan muda yang memilih menulis ketika berbicara dilarang, dan berpikir ketika patuh adalah satu-satunya pilihan yang ditawarkan. 

Dalam surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda, Kartini menyuarakan satu hal yang mendasar: perempuan adalah manusia yang berpikir.

Ia menulis, "Saya mau belajar, agar saya menjadi manusia, seutuhnya manusia." Inilah titik berangkatnya: ia tidak menuntut menjadi tokoh.

Baca Juga: Dapur MBG di Kalibata yang berhenti beroperasi karena rugi hampir Rp1 miliar bongkar kronologi penggelapan dana

Ia hanya ingin mengklaim kembali hak paling dasar dari seorang manusia—kebebasan berpikir dan menentukan arah hidup.

Namun, masyarakat kala itu menganggap keinginan perempuan untuk berpikir adalah bentuk pembangkangan.

Ironisnya, Kartini hidup dalam kemewahan. Ia anak bangsawan berdarah biru, bahkan memiliki garis keturunan dari Sultan Hamengku Buwono VI dan jejak kerajaan Majapahit.

Namun, alih-alih menikmati hak istimewa, ia mengalami penyangkalan identitas—baik sebagai perempuan Jawa, maupun sebagai manusia ras 'pribumi' di bawah penjajahan.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB