esai

ESAI: Siapa nama aslimu, kak?

Rabu, 16 April 2025 | 16:15 WIB
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi

Sulit memang menjual kegetiran eksistensial kalau nama kita masih terasosiasi sama tukang servis kipas angin.

Namun, jangan salah sangka. Nama pena bukan bentuk penipuan. Ia lebih mirip dengan kepribadian ganda yang legal—semacam ruang ganti tempat kamu mengenakan jubah puisi, topi cerpen, atau rompi kritikus.

Dengan nama pena, kamu bisa menulis puisi cabul tanpa membuat keluarga besar heboh di WhatsApp.

Kamu bisa memaki pemerintah tanpa takut kena tagging oleh akun-akun anonim yang suka lapor ke polisi.

Baca Juga: ESAI: Orangtua juga bisa durhaka pada anaknya

Menariknya, banyak penulis justru merasa lebih jujur saat menulis dengan nama pena. Kenapa? Karena beban sosial dan harapan publik bisa ditanggalkan. Di balik topeng itu, kadang kita justru jadi diri sendiri.

Tapi tentu, nama pena juga bisa jadi jebakan narsistik. Ketika kita terlalu mencintai persona, lalu lupa bahwa puisi itu tetap lahir dari jemari kita sendiri yang keseleo waktu ngetik.

Kita sibuk membangun citra 'penyair purnama', padahal gas elpiji sudah habis di dapur.

Jadi, boleh dong sedikit refleksi: apakah nama pena itu kita pakai untuk menutupi, atau justru untuk membuka?

Baca Juga: ESAI: Menakar penggunaan gawai atau kembali kepada sistem pembelajaran lama

Untuk menjauh dari dunia, atau justru mendekatkan diri pada jenis kejujuran yang tak bisa kita capai dengan KTP?

Apapun jawabannya, mari kita syukuri keberadaan nom de plume. Karena berkatnya, kita bisa membaca tulisan dari 'Dewi Kalachakra', 'Bagaskara Ramadhan', atau 'Salju Pelaminan'—dan tidak langsung ngeh kalau mereka semua adalah alumni angkatan sastra 2015 yang dulu sering ngopi sachetan bareng kita.

Karena pada akhirnya, yang penting bukan nama apa yang kamu pakai. Tapi apa yang kamu tulis. Dan seberapa jujur kamu menaruh hatimu di dalam kata-kata itu.

Ikhsan Risfandi, penulis puisi dengan nama pena Irzi, lelaki kelahiran Jakarta 1985 ini sudah menerbitkan dua buku yaitu Ruang Bicara terbit pada 2019 dan Trivia Kampung Sawah yang terbit pada November 2024

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB