Dan barangkali, dari pertanyaan ini, kita bisa mulai menyusun ulang bangunan relasi yang lebih adil antara cinta, harapan, dan keikhlasan.
Apakah kita benar-benar siap melepaskan, tanpa menciptakan narasi-narasi emosional yang mengikat anak dalam rasa bersalah?
Apakah kita mendidik mereka untuk menjadi manusia merdeka, atau hanya mengarahkan mereka agar suatu hari nanti menjadi sandaran kita di masa tua?
Dan lebih dalam lagi: apakah kita benar-benar paham bahwa tidak semua yang kita cintai harus kembali kepada kita.
Dalam dunia yang rapuh ini, terlalu sering cinta menjelma menjadi bentuk kepemilikan. Kita mencintai bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mengikat.
Kita berdoa bukan untuk memberkahi, tetapi untuk memanipulasi. Seolah anak-anak kita adalah investasi spiritual yang mesti memberi dividen emosional dan materi.
Padahal, dalam Islam, keberkahan tak selalu hadir dalam bentuk timbal balik; kadang ia justru muncul ketika kita berani menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Memiliki.
Kita hidup di era di mana peran keluarga makin kompleks, tapi justru karena itu, kita harus kembali pada yang paling hakiki: bahwa menjadi orangtua bukan tentang memastikan anak akan kembali, melainkan memastikan bahwa saat ia pergi, ia membawa bekal doa dan keridhaan.
Baca Juga: SBY Kenang momen rekaman bareng Titiek Puspa: 3 Bulan yang lalu, bersama 35 musisi Indonesia
Dan jika pun ia tak pernah kembali, itu bukan karena cinta kita gagal, tapi justru karena cinta itu telah paripurna.
Akhirnya, bukankah menjadi orangtua sejati bukan tentang menjadi tujuan, tetapi menjadi jalan? Bukan tempat anak berlabuh, tapi tempat ia belajar berlayar?
Lalu, beranikah kita hari ini berkata: "Pergilah, nak. Tak mengapa jika tak kembali. Aku tak pernah mencintaimu untuk dibalas, hanya untuk merelakanmu menjadi manusia seutuhnya."
Fileski Walidha Tanjung, penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai dan prosa di berbagai media nasional.