Sebagian lainnya bahkan menjadikan kesuksesan anak sebagai legitimasi keberhasilan mereka sebagai orangtua.
Dalam pandangan ini, anak tak pernah lepas dari beban representasi. Ia bukan lagi individu, tapi proyek.
Padahal, bukankah kita semua sedang diajari untuk melepaskan? Jalaluddin Rumi mengingatkan, “Why do you stay in prison, when the door is so wide open?”
Mengapa kita tetap terpenjara dalam rasa memiliki, sementara pintu keikhlasan terbuka lebar?
Ini bukan hanya perenungan sufistik, tetapi tawaran eksistensial untuk membebaskan relasi keluarga dari ikatan semu yang menjerat.
Dalam dunia yang makin cair ini, anak-anak akan lebih sering hidup jauh dari orangtuanya. Mereka akan menjadi manusia global, yang tak bisa terus-menerus menengok ke belakang.
Jika cinta orangtua hanya sah selama anak ada dalam radius pengawasan, maka cinta itu bukanlah kasih sayang, melainkan penguasaan.
Justru cinta sejati itu melepaskan: mengizinkan anak lupa alamat rumah, tapi tetap menyimpan harapan bahwa ia akan selalu kembali—bukan karena kewajiban, tapi karena kerinduan.
Dan apabila tak ada kabar darinya seumur hidup, tidak masalah. Karena 'Allahu ṣ-Ṣamad'—Allah tempat bergantung. Bukan anak. Bukan keluarga. Bahkan bukan masa lalu.
Cinta yang sejati itu bertumpu pada Allah, bukan pada peran-peran duniawi yang fana.
Ketika seorang ibu berkata kepada anaknya, “Pergilah nak, jika kau lupa jalan pulang, tidak apa,” maka sesungguhnya di situlah letak puncak cinta: ketika cinta tak lagi butuh dikenali, hanya perlu didoakan.
Maka pertanyaannya kini bukan lagi: “Apakah anakku masih mengingatku?” tetapi berubah menjadi, “Apakah aku sudah cukup mencintainya tanpa berharap dikenang?”