Seberapa sadar kita bahwa industri hiburan luar bukan hanya mengisi ruang kosong dalam waktu luang kita, tapi juga mengisi kekosongan dalam struktur emosi yang sudah terlalu lama dikekang oleh norma, oleh budaya malu, oleh relasi gender yang timpang?
Mungkin inilah saatnya kita menilik ulang bukan hanya apa yang kita tonton, tapi juga mengapa kita menontonnya.
Apakah kita sedang membangun imajinasi tentang cinta yang sehat? Ataukah kita sedang menegaskan betapa rusaknya cara kita mencintai dan dicintai dalam kehidupan nyata?
Ketika pria Korea dalam drama dipuja sebagai lambang cinta ideal, ia sebetulnya sedang menjadi cermin dari harapan manusia akan kasih sayang yang belum mereka temukan.
Baca Juga: Kejamnya dokter PPDS perkosa anak dari pasien yang sedang alami masa kritis dan kini meninggal dunia
Dalam kerangka ini, sang pria bukan lagi tokoh fiktif, melainkan semacam doa diam-diam yang terucap lewat layar: bahwa di dunia yang begitu sering menyakiti, masih ada ruang untuk cinta yang tidak melukai.
Namun, seperti semua doa, ia butuh dijawab—bukan oleh dunia sinema, tetapi oleh kita semua, yang hidup di dunia nyata. Pertanyaannya: sanggupkah kita menciptakan kenyataan yang layak untuk menggantikan ilusi.
Fileski Walidha Tanjung, penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis prosa, puisi, dan esai di berbagai media lokal dan nasional