Baca Juga: SIGMA: Komunitas Guru Penggerak Subang dorong literasi guru lewat menulis dan launching website
Ia menyebut bahwa 'modernitas Korea adalah modernitas maskulin'—kemajuan ekonomi dan teknologi tidak serta-merta membawa kesetaraan gender.
Dalam keluarga, lelaki masih dominan, dan perempuan sering kali diposisikan sebagai objek pelengkap.
Di sinilah letak paradoks: layar memperlihatkan cinta utopis, sementara realitas memproduksi luka-luka tak terlihat.
Sebagian besar perempuan Indonesia yang tergila-gila dengan pria Korea, tak pernah benar-benar bersinggungan dengan realitas sosial Korea itu sendiri.
Baca Juga: Evakuasi warga Gaza oleh Indonesia hanya bersifat sementara, Prabowo minta persetujuan semua pihak
Mereka tak hidup di sana, tak menjalin relasi nyata, dan tak menyaksikan bagaimana budaya kerja yang keras, tekanan sosial, dan sistem nilai konfusius sering kali menekan ekspresi kasih sayang.
Justru karena itulah industri drama dan K-Pop menjadi bentuk pelarian kolektif masyarakat Korea sendiri, sebagaimana disebut oleh ahli budaya populer, Kim Ji-young, bahwa 'drama Korea bukanlah cermin realitas, melainkan jendela impian.' Mereka adalah dunia yang seharusnya, bukan dunia yang sebenarnya.
Namun di Indonesia, citra ini diserap bulat-bulat, bahkan ditinggikan. Kekritisan hilang digantikan oleh kultus emosi.
Jika Roland Barthes menyebut mitos sebagai "cara bagaimana budaya berbicara kepada kita", maka pria Korea dalam drama menjadi mitos baru tentang cinta—narasi yang tampaknya netral, tapi sesungguhnya politis.
Baca Juga: Karena alasan kemanusiaan, Prabowo siap terima 1.000 orang dari Gaza ditampung di Indonesia
Ia membentuk bagaimana perempuan membayangkan cinta, relasi, dan bahkan nilai hidup itu sendiri.
Bukan tak mungkin, dalam proses ini, perempuan kehilangan kemampuan untuk mengenali dan mencintai laki-laki di sekitarnya yang nyata, dengan segala kekurangan dan keotentikannya.
Dampaknya bisa jauh lebih serius dari sekadar preferensi tontonan. Ketika pemujaan ini berkembang tanpa kritik, kita tak hanya membiarkan diri larut dalam fiksi, tapi juga memperlebar jarak antara realitas dan ekspektasi emosional.
Relasi menjadi medan ilusi. Mencintai hanya ketika sesuai dengan template drama. Dan ini bukan hanya soal rasa, ini soal cara kita sebagai bangsa mengelola kebudayaan.
Artikel Terkait
4 Hal yang bikin iShowSpeed ‘Ngebet’ ke Indonesia, salah satunya dapat baju Arhan saat di Korea Selatan
Ada 22 episode, drama Korea Gong Yoo dan Song Hye-kyo sudah mulai syuting, OTW tayang di Netflix
Robert Pattinson ke Korea untuk promo film Mickey 17, mendadak jadi bintang tamu Running Man
Diduga direkrut jadi Dirtek Timnas Indonesia, Shin Tae-yong beri jawaban sebelum pulang ke Korea Selatan
Salah satunya selalu merasa kenyang, ini gejala awal kanker perut yang merenggut nyawa artis veteran Korea Lee Joo-sil
Warga Korea Selatan rayakan pemakzulan Yoon Suk-yeol dengan makan Mi yang ditaburi daun bawang, ini makna tersembunyinya
ESAI: Jurnalis bukan musuh, tapi pilar demokrasi