ESAI: Lelaki Korea dalam bayang-bayang realitas sosial

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 14 April 2025 | 20:02 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Pelawak Elly Sugigi bongkar kedekatan Ridwan Kamil dan Lisa Mariana sejak 2021: Dulu minta bantu up ke media

Seperti yang diingatkan oleh filsuf Prancis, Michel Foucault, kekuasaan tidak hanya hadir dalam bentuk represi, tetapi juga dalam bentuk wacana.

Siapa yang memiliki kuasa untuk mendefinisikan 'laki-laki ideal' juga memiliki kuasa atas imajinasi kolektif perempuan.

Dalam konteks ini, industri Korea telah dengan sangat halus dan canggih mengkolonisasi ruang batin kita.

Kita tidak hanya mengimpor produk, tetapi juga membiarkan sistem nilai dan standar cinta yang dikonstruksi negara lain membentuk identitas emosi bangsa kita.

Baca Juga: Dokter PPDS yang rudapaksa anak pasien RSHS ditetapkan sebagai tersangka, STR dicabut permanen dan tidak bisa praktik lagi

Jika Indonesia tidak segera membangun narasi tandingan, perempuan Indonesia hanya akan menjadi penonton dari peradaban bangsa lain—terus-menerus menelan imajinasi romantik yang bukan hanya palsu, tetapi juga menjebak.

Kita harus mulai melihat drama Korea bukan sebagai realitas, melainkan sebagai artefak budaya: ia menyimpan jejak trauma kolektif, harapan, dan bahkan ketimpangan yang coba dihaluskan dalam narasi cinta.

Maka yang kita butuhkan bukan sekadar menonton dengan mata, tetapi membaca dengan kesadaran. Membaca, seperti kata Walter Benjamin, adalah "melihat dengan cara yang berbeda."

Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Kenapa perempuan Indonesia menyukai pria Korea?” tetapi, “Apa yang sedang dicari oleh perempuan melalui pria Korea dalam drama?”

Baca Juga: Polisi tetapkan ada 2 korban tambahan dari dokter PPDS cabul, terungkap keduanya merupakan pasien: Masih di rumah sakit

Apakah mereka merindukan kelembutan yang tak mereka temukan di sekelilingnya? Atau justru mereka sedang melawan realitas sosial yang keras dengan membangun ruang batin yang lembut dan utopis, meskipun semu?

Di titik ini, drama Korea bukan hanya soal hiburan. Ia menjadi jendela yang mengantar kita menengok ke dalam: ke ruang-ruang kosong dalam jiwa manusia modern yang rindu pada kasih yang tidak manipulatif, perhatian yang tidak transaksional, dan cinta yang tidak perlu selalu rasional.

Maka dari itu, alih-alih menyalahkan perempuan yang tergila-gila pada pria Korea, barangkali lebih adil jika kita bertanya: apa yang telah gagal diberikan oleh masyarakat kita sendiri kepada mereka, hingga fiksi terasa lebih bisa dipercaya daripada kenyataan?

Seberapa jauh kita memahami bahwa kebutuhan akan kelembutan, penghargaan, dan cinta yang tulus adalah kebutuhan universal yang belum sepenuhnya terpenuhi dalam tatanan sosial kita?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X