Seperti yang diingatkan oleh filsuf Prancis, Michel Foucault, kekuasaan tidak hanya hadir dalam bentuk represi, tetapi juga dalam bentuk wacana.
Siapa yang memiliki kuasa untuk mendefinisikan 'laki-laki ideal' juga memiliki kuasa atas imajinasi kolektif perempuan.
Dalam konteks ini, industri Korea telah dengan sangat halus dan canggih mengkolonisasi ruang batin kita.
Kita tidak hanya mengimpor produk, tetapi juga membiarkan sistem nilai dan standar cinta yang dikonstruksi negara lain membentuk identitas emosi bangsa kita.
Jika Indonesia tidak segera membangun narasi tandingan, perempuan Indonesia hanya akan menjadi penonton dari peradaban bangsa lain—terus-menerus menelan imajinasi romantik yang bukan hanya palsu, tetapi juga menjebak.
Kita harus mulai melihat drama Korea bukan sebagai realitas, melainkan sebagai artefak budaya: ia menyimpan jejak trauma kolektif, harapan, dan bahkan ketimpangan yang coba dihaluskan dalam narasi cinta.
Maka yang kita butuhkan bukan sekadar menonton dengan mata, tetapi membaca dengan kesadaran. Membaca, seperti kata Walter Benjamin, adalah "melihat dengan cara yang berbeda."
Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Kenapa perempuan Indonesia menyukai pria Korea?” tetapi, “Apa yang sedang dicari oleh perempuan melalui pria Korea dalam drama?”
Apakah mereka merindukan kelembutan yang tak mereka temukan di sekelilingnya? Atau justru mereka sedang melawan realitas sosial yang keras dengan membangun ruang batin yang lembut dan utopis, meskipun semu?
Di titik ini, drama Korea bukan hanya soal hiburan. Ia menjadi jendela yang mengantar kita menengok ke dalam: ke ruang-ruang kosong dalam jiwa manusia modern yang rindu pada kasih yang tidak manipulatif, perhatian yang tidak transaksional, dan cinta yang tidak perlu selalu rasional.
Maka dari itu, alih-alih menyalahkan perempuan yang tergila-gila pada pria Korea, barangkali lebih adil jika kita bertanya: apa yang telah gagal diberikan oleh masyarakat kita sendiri kepada mereka, hingga fiksi terasa lebih bisa dipercaya daripada kenyataan?
Seberapa jauh kita memahami bahwa kebutuhan akan kelembutan, penghargaan, dan cinta yang tulus adalah kebutuhan universal yang belum sepenuhnya terpenuhi dalam tatanan sosial kita?