esai

ESAI: Lelaki Korea dalam bayang-bayang realitas sosial

Senin, 14 April 2025 | 20:02 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: SIGMA: Komunitas Guru Penggerak Subang dorong literasi guru lewat menulis dan launching website

Ia menyebut bahwa 'modernitas Korea adalah modernitas maskulin'—kemajuan ekonomi dan teknologi tidak serta-merta membawa kesetaraan gender.

Dalam keluarga, lelaki masih dominan, dan perempuan sering kali diposisikan sebagai objek pelengkap.

Di sinilah letak paradoks: layar memperlihatkan cinta utopis, sementara realitas memproduksi luka-luka tak terlihat.

Sebagian besar perempuan Indonesia yang tergila-gila dengan pria Korea, tak pernah benar-benar bersinggungan dengan realitas sosial Korea itu sendiri.

Baca Juga: Evakuasi warga Gaza oleh Indonesia hanya bersifat sementara, Prabowo minta persetujuan semua pihak

Mereka tak hidup di sana, tak menjalin relasi nyata, dan tak menyaksikan bagaimana budaya kerja yang keras, tekanan sosial, dan sistem nilai konfusius sering kali menekan ekspresi kasih sayang.

Justru karena itulah industri drama dan K-Pop menjadi bentuk pelarian kolektif masyarakat Korea sendiri, sebagaimana disebut oleh ahli budaya populer, Kim Ji-young, bahwa 'drama Korea bukanlah cermin realitas, melainkan jendela impian.' Mereka adalah dunia yang seharusnya, bukan dunia yang sebenarnya.

Namun di Indonesia, citra ini diserap bulat-bulat, bahkan ditinggikan. Kekritisan hilang digantikan oleh kultus emosi.

Jika Roland Barthes menyebut mitos sebagai "cara bagaimana budaya berbicara kepada kita", maka pria Korea dalam drama menjadi mitos baru tentang cinta—narasi yang tampaknya netral, tapi sesungguhnya politis.

Baca Juga: Karena alasan kemanusiaan, Prabowo siap terima 1.000 orang dari Gaza ditampung di Indonesia

Ia membentuk bagaimana perempuan membayangkan cinta, relasi, dan bahkan nilai hidup itu sendiri.

Bukan tak mungkin, dalam proses ini, perempuan kehilangan kemampuan untuk mengenali dan mencintai laki-laki di sekitarnya yang nyata, dengan segala kekurangan dan keotentikannya.

Dampaknya bisa jauh lebih serius dari sekadar preferensi tontonan. Ketika pemujaan ini berkembang tanpa kritik, kita tak hanya membiarkan diri larut dalam fiksi, tapi juga memperlebar jarak antara realitas dan ekspektasi emosional.

Relasi menjadi medan ilusi. Mencintai hanya ketika sesuai dengan template drama. Dan ini bukan hanya soal rasa, ini soal cara kita sebagai bangsa mengelola kebudayaan.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB