esai

ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud

Kamis, 6 Februari 2025 | 23:30 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Baca Juga: Tanpa dihadiri pasangan Jimat Aku, KPU Subang tetapkan Reynaldy-Agus Masykur Rosyadi sebagai Bupati dan Wakil Bupati Subang 2024-2029

Hal begini, biasa dilakukan para wartawan, terkadang atas suruhan Redaktur bahkan Pemred.

Sialnya, Pulo Lasman mewawancarai orang kusut dalam berpikir yang telah menularkan waham atau pendapat ngawur yang tidak logis itu, maka muncullah pernyataan yang serampangan, misalnya mengatakan seperti ini:

1. “orang berakal sehat tentu tak menolak teknologi, tetapi menulis puisi atau karya seni lainnya 'haram' dengan AI.”

Komentar dari saya: Apakah Anda pernah menggunakan google search engine? Sejak kapan? Perlu dicatat, bahwa telusur google itu sejak kemunculannya telah menggunakan AI, tapi tentu AI generasi rekiplik.

Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ungkap mekanisme harga gas LPG 3 kg dari agen hingga pengecer: Rp19.000 itu sudah mahal

Sekarang, google search engine tentu makin canggih, berkat pencanggihan AI. Jika Anda menulis dan memanfaatkan google search, maka Anda haram, loh.

Saya mengontak Kyai Riri Satria yang pakarnya di bidang AI, memintanya menjadi narasumber tentang manfaat dan madhorot AI di hadapan para guru Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat Ykppjb.

Riri menuturkan sejarah AI, yang proyek penelitiannya dimulai tahun 1958 oleh IBM. Penelitian ini ditertawakan banyak kalangan termasuk oleh para pecatur dunia.

Namun pada 1997, Riri menambahkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, mesin berhasil mengalahkan pecatur top dunia dalam sebuah pertandingan catur.

Baca Juga: Insiden kecelakaan maut di gerbang tol Ciawi sebabkan 3 mobil terbakar hingga menelan 8 korban jiwa, AHY: Jangan lagi ada pihak yang lalai

Saat itu supercomputer IBM Deep Blue, berhasil mengalahkan juara catur dunia, Gary Kasparov, dalam sebuah pertarungan legendaris di New York yang berlangsung dalam beberapa putaran.

Itu tahun 1997 ya, sekarang 2025, sudah lebih dari dua dekade. Bisa kita rasakan betapa canggihnya perkembangan teknologi.

2. "Justru membuktikan tanpa AI puisi-puisi penyair besar tercipta," kata Narudin Pituin yang juga dikenal sebagai ahli semiotika.

Komentar saya: Perlu diingat bahwa puisi-puisi penyair besar tercipta itu kan masa lalu, ketika AI generasi terkini yang sedang booming itu memang belum ada. Kita lihat 10 tahun yang akan datang, bisa jadi puisi-puisi mencengangkan lahir dari penyair-penyair besar setelah mereka bersentuhan dengan AI sebagai alat bantu, ingat, alat bantu ya.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB