Baca Juga: HMPV marak di China hingga muncul imbauan Kemenkes, akankah seperti Covid-19?
Hartawan tersebut mencintai ilmu tapi tidak bisa atau tidak sempat mengajar, sedangkan kawannya ahli kungfu tapi tidak punya biaya cukup untuk membangun perguruan silat tersebut.
Di situ ada pertemuan antara dua potensi unggul untuk menggapai tujuan bersama, yakni kaderisasi ilmu dan filantropi pada ranah keilmuan.
Awal tahun 2025 ini bisa jadi awal yang baik untuk mengukuhkan tiga semangat di atas.
Mencintai ilmu dilakukan dengan membaca, menulis, berpikir, atau mengajar ilmu yang kita punya kepada orang-orang terdekat, termasuk mengajar anak-anak sendiri di rumah (mengajar iqro’ misalnya), menulis status misalnya, atau yang lainnya.
Baca Juga: Prabowo perintahkan bahan baku makan bergizi gratis bersumber dari desa untuk gerakkan ekonomi
Sikap berpuas diri dengan ‘gelar formal’ yang membuat diri merasa ‘sudah khatam’ dan tidak mau belajar lagi bolehlah ditinggalkan, sebaliknya bersemangatlah untuk mengejar kedalaman ilmu yang memberi rasa bahagia pada jiwa.
Semangat perbaikan diri dimulai dengan mengecek apakah akal, tubuh, dan jiwa kita sudah mantapkah di jalan yang benar atau belum.
Kemudian, semangat perbaikan umat dapat kita lakukan dengan berkontribusi untuk membantu sesama, baik yang terlihat atau yang tidak terlihat oleh manusia. *
Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate