Jika tidak khilaf, sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang bisa kita pelajari dari kisah hidup orang besar di masa lalu atau yang masih hidup diantara kita.
Mereka umumnya mencintai ilmu, menjadikan ilmu sebagai sarana perbaikan diri dan perbaikan diri itu pula yang mengantar mereka untuk bersemangat memperbaiki umat atau masyarakat.
Kisah para pecinta ilmu teramat banyak di berbagai buku. Bahkan, menuntut ilmu menjadi cerita yang sering dibawakan para guru, misalnya Nabi Musa yang berguru pada Khidir yang memiliki ilmu yang di luar kebiasaan.
Kisah Imam Syafi'i yang berkelana ke beberapa negeri dan mengabadikan pikiran dan perasaannya dalam kitab dan syair, kisah para wali tanah Jawa dan banyak macam lainnya.
Baca Juga: Pengabdian tanpa batas Bripka Anditya, gugur selamatkan wisatawan di Pantai Pangandaran
Kisah-kisah itu mengajarkan kita bahwa salah satu kemuliaan manusia atas makhluk lainnya adalah sebab ilmu, dan salah satu kebahagiaan hidup pula ada pada ilmu.
Syekh Yusuf Al-Makassari misalnya, selain dikenal sebagai pejuang anti-penjajahan dan anti devide et impera, terlebih dahulu dikenal sebagai ilmuwan.
Dua puluh tahun berkeliling ia mencari ilmu, bertemu banyak guru, dan berkhidmah dalam berbagai thariqah hingga bergelar masyhur ‘tajul khalwati’ untuk thariqah khalwatiyah.
Pencarian ilmu itu menjadi penting untuk diteladani terutama bagi mereka yang masih muda, punya kesempatan belajar, dan belum punya banyak beban kehidupan.
Baca Juga: Media asing masukan Prabowo ke dalam 10 pemimpin dunia yang bakal berpengaruh di tahun 2025
Konsekuensi dari ilmu itu adalah perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, dan itulah mengapa ia berjuang hingga takdir mengantarkannya menjadi tawanan yang diasingkan ke Sri Lanka, dan karena terus memengaruhi umat akhirnya diasingkan lebih jauh ke selatan Afrika.
Ilmu membawa kita pada semangat untuk memperbaiki diri. Semua orang telah diberi modal yang sama, yakni akal, jasad dan ruh yang menjadi bekal baginya dalam menjalani kehidupan.
Kitab suci Al-Qur’an, sebuah kitab dengan kebenaran mutlak, memberikan petunjuk bahwa berilmu perlu dibarengi dengan berzikir artinya, punya ilmu saja tidak cukup, butuh satu lagi, punya zikir.
Berilmu dan berzikir ini disebut dengan predikat 'ulul albab', yakni orang-orang yang berpikir dan berzikir saat berdiri, duduk, atau saat berbaring.