esai

ESAI: Merajut kasih, mencipta inspirasi

Senin, 25 November 2024 | 16:33 WIB
Irnantry Miftahudin, Guru SDIT Raflesia Depok

Baca Juga: Bertemu MBZ, Prabowo apresiasi inisiatif pelibatan Indonesia untuk misi kemanusiaan Gaza

Kami berbagi kepercayaan, membangun jembatan emosional yang membuat pembelajaran menjadi pengalaman penuh makna.

Kami ingat ketika seorang siswa yang awalnya pendiam, lebih sering menunduk daripada terlibat dalam diskusi. 

Hari demi hari, kami mendekatkan diri, mengajaknya berbicara dari hati ke hati, diantara waktu yang terbatas dengan pergantian jam belajar yang sejenak terhenti.

Dengan mendengarkan bahwa pendapat yang diungkapnya adalah penting, perlahan perubahan itu datang memberi arti, dari tatapan malu-malu, kini ia berani berdiri dan menyampaikan pendapatnya pribadi. 

Baca Juga: 6 Manfaat konsumsi jambu biji merah untuk kesehatan

Inilah momen penuh arti sebagai bukti kekuatan ikatan hati. Mengajar dengan ikatan hati adalah pilihan sadar untuk hadir tanpa syarat dan menerima mereka tanpa pamrih. 

Ini adalah perwujudan dari cinta sejati yang membuat pendidikan lebih dari sekadar menuntut ilmu, melainkan mencari jati diri untuk membuatnya berarti. 

Setiap anak adalah permata yang unik, dengan potensi tersendiri yang hanya bisa ditemukan ketika seseorang bersedia melihat lebih dalam dan mendekatkan diri dengan hati terbuka. 

Kami pernah mendampingi seorang siswa yang merasa terasing diantara teman - temannya karena keterbatasan kemampuan akademiknya. 

Baca Juga: Dahsyat, ini 7 manfaat konsumsi ubi jalar bagi kesehatan tubuh

Bukannya mendorong dengan tekanan, kami memilih untuk mengajaknya bicara di saat istirahat, memahami kecemasannya sesaat dan menumbuhkan keyakinan dalam dirinya bahwa belajar bukan soal siapa yang tercepat, tetapi soal keberanian untuk terus mencoba penuh semangat.  

Semakin lama belajar, semakin lama memahami ataupun semakin lama menghafal ayat ilahi, maka semakin banyak momen untuk menikmati ilmu yang Alloh beri.

Kami mendengarkannya dan mengajak siswa berbagi cerita sederhananya akan menjadi fondasi untuk membangun kepercayaannya. 

Melalui obrolan ringan, dukungan saat mereka merasa kesulitan, hingga tepukan bahu ketika berhasil mencapai hal kecil yang diinginkan, hubungan guru dan siswa berubah menjadi hubungan teman yang saling memberi harapan. 

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB