Sebagai guru muda yang penuh dengan ambisi untuk melakukan banyak hal bersama siswa saat itu, kami tak hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran sebagai tuntutan kurikulum.
Tak hanya mengejar nilai Ujian Nasional semata yang menjadi tujuan banyak orang tua saat itu, tetapi kami ingin menanamkan nilai-nilai serta semangat yang membekas dalam setiap hati anak didik kami.
Di SDIT Raflesia, filosofi ‘Membina dengan Ikatan Hati’ adalah prinsip yang menyinari jalan dakwah kami, memupuk harapan dan membangun kepercayaan.
Setiap pagi, kami menyambut senyum dan sapa hangat dari wajah-wajah mungil penuh rasa ingin tahu.
Baca Juga: Prabowo dan MBZ saksikan pertukaran MoU RI-UEA bidang industri hingga kesehatan
Terdapat siswa yang antusias penuh energi, ada siswa hadir dengan tertunduk malu juga begitupun di sela waktu kemudian datang siswa yang hadir dengan wajah lesu terkadang tanpa semangat untuk hadir ke sekolah.
Begitupun waktu berlalu ada juga siswa yang hadir ke sekolah dengan air mata yang sudah membekas diantara pipinya.
Meskipun demikian kami yakin dibalik sorot mata mereka, ada mimpi yang menunggu disentuh hingga menjadi nyata, ada bakat yang haus pengakuan, ada potensi yang harus dibina.
Di sinilah tugas kami sebagai guru, kami memulai perjalanan mengikat hati dengan mereka.
Baca Juga: Prabowo temui MBZ di UEA, undang kerjasama untuk ketahanan pangan hingga energi
Ikatan ini terbentuk dari rasa saling percaya, kesediaan untuk mendengar, dan dorongan untuk memahami cerita-cerita unik mereka.
Mengajar tak lagi menjadi rutinitas harian bila hati ini terlibat. Melalui dorongan untuk saling percaya, serta kesediaan untuk terus mendengar ungkapan hayalan mereka yang kita sebut dengan cita-cita.
Kami hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai sahabat yang mendukung apapun yang ingin mereka lakukan.
Melalui kata-kata penyemangat sambil mengeluarkan kalimat gombalan untuk menghadirkan dunia di dalam kelas yang kecil.