Penurunan jumlah peserta didik baru dari waktu ke waktu merupakan salah satu permasalahan yang dirasakan oleh sebagian pengelola lembaga pendidikan saat ini.
Tren semacam ini seakan terus berlanjut sekalipun mereka telah melakukan berbagai upaya pembenahan, terutama dalam hal peningkatan mutu layanan.
Sebagian bahkan terpaksa mengurangi jumlah guru atau staffnya karena minimnya jumlah murid yang diterima.
Kondisi ini diperparah dengan bermunculannya lembaga sejenis yang menawarkan berbagai program atau fasilitas yang lebih menarik.
Baca Juga: Pj. Bupati Subang hadiri arahan langsung Presiden Jokowi di Ibu Kota Nusantara
Alhasil, tidak sedikit lembaga pendidikan yang akhirnya memutuskan untuk menutup akivitasnya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan operasionalnya.
Jika kita teliti lebih jauh, cukup banyak faktor yang dapat mengakibatkan penurunan jumlah pendaftar.
Adapun mutu layanan ternyata bukanlah satu-satunya faktor yang dipertimbangkan oleh para orangtua dalam memilih lembaga pendidikan untuk anak-anaknya.
Ketidakmampuan lembaga dalam melakukan pendekatan secara tepat kepada masyarakat justru menjadi kendala utama dalam upaya memenangkan persaingan.
Dengan kata lain, strategi marketing yang digunakan tidak lagi sesuai dengan karakteristik masyarakat saat ini.
Berbicara tentang dunia marketing, strategi yang digunakan oleh para pelaku usaha tentunya berkembang dari waktu ke waktu.
Hal tersebut mengacu pada karakteristik masyarakat atau calon customer yang semakin dinamis.
Jika pada era marketing 1.0 strategi yang digunakan lebih berorientasi pada kualitas produk, maka di era 5.0 ini para pelaku usaha dituntut untuk lebih dari sekedar meningkatkan kualitas produk dari waktu ke waktu.