esai

ESAI : Merayu Cina dan Korea

Rabu, 3 Juli 2024 | 16:13 WIB
Lukman Nurhakim, Dirut Perumda TRS (kedua dari kiri)

Saat ini sudah memasuki musim kemarau. Tapi, kabar dari BMKG, tahun ini tidak akan lebih panas dari tahun 2023. Nyatanya di bulan Juni ini masih ada hujan. Masih bisa menikmati sejuknya udara sambil baca lagi Novel Hujan Bulan Juni. 

Ternyata awal Juli juga masih ada hujan. Meskipun telat, musim panas pasti terjadi. Puncaknya mungkin di bulan Agustus. Musim sekarang tidak seperti dulu, mudah diprediksi. 

Kata orang tua, kalau sudah ret yaitu bulan Maret, musim hujan hampir selesai. Kata guru, Juli jadi bulan terpanas. Matahari persis di atas kepala. Tapi kerusakan alam bikin kita keder. Juli masih ada hujan, tahun lalu September masih panas.

Perumda Tirta Rangga Subang (TRS) harus bersiap menghadapi musim kemarau. Sumur-sumur dan sumber mata air yang biasa digunakan warga biasanya banyak yang mengering. Terutama di wilayah Pantura. Permintaan pengiriman air tangki biasanya meningkat.

Baca Juga: 49 Personel Polres Subang naik pangkat, ini pesan yang disampaikan oleh AKBP Ariek Indra Sentanu!

Jika sudah begini, daerah-daerah yang tidak berlangganan mendadak minta jadi pelanggan. Tapi itu tidak banyak. Yang repot, jika daerah yang belum ada jaringan pipa, minta jadi pelanggan.

Sudah terjadi di Sarireja, Ciater. Menurut warganya, sudah dua tahun terakhir ini terjadi kekeringan sumber air. Memang mata air masih ada. Tapi debit sudah sangat kecil. Pengelola air bersih perorangan kesulitan. 

“Repot juga (manajemennya), silahkan kalau PDAM mau masuk. Kami siap bantu,” Intinya begitu obrolan kami dengan aparat Desa Sarireja pada bulan Mei lalu. 

Mereka minta Perumda TRS mulai masuk ke sana. Memberikan pelayanan. Tapi kami masih kesulitan karena belum ada jaringan pipa. 

Baca Juga: Pilkada Subang, pengamat kebijakan publik ini anggap H. Ruhimat masih dominan, baik secara elektabilitas ataupun popularitas

Sumber air dari Cileuleuy-Jalancagak dan Cipondok-Cisalak yang saat ini digunakan harus ditarik ke atas. Elevasi Sarireja lebih tinggi. Tentu air harus didorong pompa. Harus dihitung dulu nilai keekonomiannya.
Intinya belum bisa dilayani dalam waktu dekat. 

Tapi kami sudah punya sumber air di atas Sarireja. Mata air Cikanyere. Debitnya memadai, sekitar 100 lps. Cukup untuk sekitar 10.000 rumah dalam hitungan ideal.

Strategi lainnya sudah kami pikirkan; mengambil air dari air terjun atau curug. Banyak curug di wilayah selatan yang belum termanfaatkan untuk sumber air bersih. 

Lokasinya jauh dari pemukiman warga. 
Kami sudah survey, di antaranya ke Curug Cibareubeuy yang pernah didatangi Ariel Noah.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB