Ia diberi gelar bapak pers nasional. Demikianlah seorang Pram, ia membangkitkan kembali memori kolektif bangsa Indonesia melalui tulisanya.
Tak salah ketika Pram ditanya soal cita-cita hidup, dia menjawab “Saya mau jadi brahmana. Saya tidak mau jadi yang lain.” Brahmana kelas sosial paling tinggi dalam masyarakat tradisional India.
Brahmana merupakan kelompok yang paling terhormat, yang terdiri dari orang-orang yang berprofesi dengan lebih banyak menggunakan akal pikirannya, seperti para ilmuwan, intelektual, pemikir.
Pram adalah seorang Brahmana, yang mewakafkan sebagian besar waktu, pikiran, dan tenaganya untuk dunia menulis.
Pada tanggal 13 Oktober 1981, Kejaksaan Agung Republik Indonesia membakar secara massal dua jilid pertama dari tetralogi Buru yang dicalonkan dunia sebagai pemenang hadiah Nobel.
Angka yang resmi yang dilaporkan majalah Tempo (14 Januari 1981) sebanyak 972 eksemplar. Akan tetapi, ada pihak lain yang mencurigai jumlahnya ribuan. Pramoedya tentu saja tidak kaget atau heran jika mendengar berita itu.
Naskah novel yang sempat beredar dari Pulau Buru merupakan hasil penulisan ulang terhadap naskah yang berkali-kali sempat dirampas dan disita aparat negara. Perpustakaan pribadinya diobrak-abrik dan semua isi rumahnya dijarah.
Pakar sastra asal Belanda A Teeuw memuji Pram dengan sebutan sastrawan tanpa tandingan. ‘’Pram adalah pengarang prosa nomor wahid, tanpa saingan, dalam abadi ini.’’ Pujinya.
Sejak kecil Pram sudah mengenal pengarang buku dunia, semisal, Victor Hugo, Jose Rizal, Tolstoi, Gogol, Shakespeare, V. Yermilov, John Stainbeck, Iganzio Siloue, Mayakovsky, Gorky, Nikolai Ostrovsky, vsevolod Ivanov, Mikhail Sholokhov, Alan Paton, Nietzsche, Pushkin, Burce Marshal.
Pram Sejak usia remaja, sudah memiliki kesadaran bahwa pengarang adalah anak kandung masyarakat. Maka Pram, banyak mengangkat tema-tema yang bersentuhan langsung dengan isu akar rumput, terkhusus ketidakadilan.
Sosoknya telah purna melaksaknakan tugas seperti apa yang dikatakan Theodor Geiger, ‘’Adalah tugas seorang cendekiawan menjadi pengeritik kekuasaan yang tidak jemu-jemunya dan dengan itu menjaga agar pohon kekuasaan itu tidak bertumbuh tinggi mencakar langit.’’
Anja Hawari Fasya, Tim Riset Milenial Indonesia & Direktur Madrasah Pemikiran Bung Karno
Artikel Terkait
ESAI : Mencari pemimpin rakyat di Pemilu 2024
ESAI : Sekolah di masa depan
ESAI : Meminimalisir golput, tingkatkan kolaborasi dalam partisipasi politik masyarakat
ESAI : Subang dalam perspektif Generasi Milenial (Generasi Y)
Salah satu penyair terbaik Indonesia, ini biografi singkat W.S Rendra
Juara umum Road Race pada Porprov XIV Jabar 2022, apa yang disiapkan selanjutnya oleh Korwil IMI Subang?
Hari Jadi Subang ke-75, DPRD Subang sambut baik pernyataan Gubernur terkait daerah penghasil lumbung padi