ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 5 April 2023 | 19:33 WIB
Anja Hawari Fasya (Tim Riset Milenial Indonesia dan Direktur Madrasah Pemikiran Bung Karno)
Anja Hawari Fasya (Tim Riset Milenial Indonesia dan Direktur Madrasah Pemikiran Bung Karno)

Ia diberi gelar bapak pers nasional. Demikianlah seorang Pram, ia membangkitkan kembali memori kolektif bangsa Indonesia melalui tulisanya. 

Tak salah ketika Pram ditanya soal cita-cita hidup, dia menjawab “Saya mau jadi brahmana. Saya tidak mau jadi yang lain.” Brahmana kelas sosial paling tinggi dalam masyarakat tradisional India. 

Baca Juga: Hari Jadi Subang ke-75, DPRD Subang sambut baik pernyataan Gubernur terkait daerah penghasil lumbung padi

Brahmana merupakan kelompok yang paling terhormat, yang terdiri dari orang-orang yang berprofesi dengan lebih banyak menggunakan akal pikirannya, seperti para ilmuwan, intelektual, pemikir.

Pram adalah seorang Brahmana, yang mewakafkan sebagian besar waktu, pikiran, dan tenaganya untuk dunia menulis. 

Pada tanggal 13 Oktober 1981, Kejaksaan Agung Republik Indonesia membakar secara massal dua jilid pertama dari tetralogi Buru yang dicalonkan dunia sebagai pemenang hadiah Nobel. 

Angka yang resmi yang dilaporkan majalah Tempo (14 Januari 1981) sebanyak 972 eksemplar. Akan tetapi, ada pihak lain yang mencurigai jumlahnya ribuan. Pramoedya tentu saja tidak kaget atau heran jika mendengar berita itu. 

Naskah novel yang sempat beredar dari Pulau Buru merupakan hasil penulisan ulang terhadap naskah yang berkali-kali sempat dirampas dan disita aparat negara. Perpustakaan pribadinya diobrak-abrik dan semua isi rumahnya dijarah. 

Baca Juga: Juara umum Road Race pada Porprov XIV Jabar 2022, apa yang disiapkan selanjutnya oleh Korwil IMI Subang?

Pakar sastra asal Belanda A Teeuw memuji Pram dengan sebutan sastrawan tanpa tandingan. ‘’Pram adalah pengarang prosa nomor wahid, tanpa saingan, dalam abadi ini.’’ Pujinya. 

Sejak kecil Pram sudah mengenal pengarang buku dunia, semisal, Victor Hugo, Jose Rizal, Tolstoi, Gogol, Shakespeare, V. Yermilov, John Stainbeck, Iganzio Siloue, Mayakovsky, Gorky, Nikolai Ostrovsky, vsevolod Ivanov, Mikhail Sholokhov, Alan Paton, Nietzsche, Pushkin, Burce Marshal. 

Pram Sejak usia remaja, sudah memiliki kesadaran bahwa pengarang adalah anak kandung masyarakat. Maka Pram, banyak mengangkat tema-tema yang bersentuhan langsung dengan isu akar rumput, terkhusus ketidakadilan. 

Sosoknya telah purna melaksaknakan tugas seperti apa yang dikatakan Theodor Geiger, ‘’Adalah tugas seorang cendekiawan menjadi pengeritik kekuasaan yang tidak jemu-jemunya dan dengan itu menjaga agar pohon kekuasaan itu tidak bertumbuh tinggi mencakar langit.’’

Anja Hawari Fasya, Tim Riset Milenial Indonesia & Direktur Madrasah Pemikiran Bung Karno

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X