ESAI: Peran jurnalis dalam perkembangan sastra Indonesia

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 17 Mei 2026 | 23:06 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Oknum pimpinan Ponpes di Garut diamankan polisi, diduga jadi pelaku pencabulan santriwati

Peran lain yang tidak kalah penting adalah dalam mendorong kebebasan berekspresi. Dalam berbagai periode sejarah Indonesia, jurnalis sering berada di garis depan dalam menyuarakan kritik sosial dan politik.

Semangat ini kemudian turut memengaruhi karya sastra yang lahir pada zamannya. Sastra tidak lagi hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga menjadi alat perlawanan, refleksi, dan perubahan sosial.

Hubungan ini menunjukkan bahwa sastra dan jurnalistik sama-sama memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara berpikir masyarakat.

Memasuki era digital, peran jurnalis dalam perkembangan sastra mengalami transformasi. Media tidak lagi terbatas pada koran atau majalah cetak, tetapi meluas ke platform online, blog, dan media sosial.

Baca Juga: Viral catcalling di KA Lokal Garut–Purwakarta, pelaku diturunkan di Kiaracondong usai picu kericuhan

Hal ini membuka peluang yang lebih besar bagi lahirnya penulis-penulis baru. Jurnalis kini dapat dengan mudah mempublikasikan karya, mengulas buku, atau mengangkat isu sastra kepada audiens yang lebih luas.

Di sisi lain, masyarakat juga menjadi lebih aktif dalam mengapresiasi dan mendiskusikan karya sastra.

Pada akhirnya, peran jurnalis dalam perkembangan sastra Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata.

Mereka bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga penggerak budaya, penjaga nalar kritis, dan penghubung antara karya sastra dengan masyarakat.

Baca Juga: Subang curi perhatian di Kirab Budaya Tatar Sunda, 'Subang Ngabret' bergema di Bandung

Tanpa kontribusi jurnalis, sastra mungkin tidak akan berkembang sepesat dan sehidup seperti yang kita kenal hari ini.

Oleh karena itu, memahami hubungan antara jurnalistik dan sastra menjadi penting untuk melihat bagaimana sebuah karya tidak hanya lahir, tetapi juga hidup dan memberi makna dalam kehidupan masyarakat.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X