ESAI: Sastra Indonesia antara retrospeksi dan resolusi di era literasi digital

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 13:48 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kiri)
Gus Nas Jogja (kanan) dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kiri)

Era digital membawa tantangan dominasi bahasa asing dan penggunaan bahasa non-baku.

Sastra Indonesia harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kemurnian dan kekayaan Bahasa Indonesia, sekaligus tetap relevan di tengah globalisasi.

Memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan sastra dan budaya Indonesia ke kancah internasional.

Baca Juga: Mensesneg ungkap pesan khusus Megawati untuk Prabowo: Jaga pemerintahan dan persatuan

Sastra Indonesia saat ini berada dalam fase 'revolusi' yang menarik. Retrospeksi mengajarkan kita tentang akar, nilai, dan standar yang telah terbangun.

Resolusi, yang didorong oleh perspektif literasi digital, menuntut kita untuk adaptif, inovatif, dan berani menembus batas-batas konvensional.

Literasi digital bukan ancaman, melainkan jembatan yang memungkinkan sastra Indonesia untuk terus hidup, berkembang, dan mencapai khalayak yang lebih luas, memastikan relevansinya di masa depan yang serba terhubung.

Ini adalah peluang besar untuk memperkuat posisi sastra Indonesia sebagai bahasa yang dinamis, relevan, dan berdaya saing di tengah perubahan global (Journal of Aspirasi, 2024).

Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X