Era digital membawa tantangan dominasi bahasa asing dan penggunaan bahasa non-baku.
Sastra Indonesia harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kemurnian dan kekayaan Bahasa Indonesia, sekaligus tetap relevan di tengah globalisasi.
Memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan sastra dan budaya Indonesia ke kancah internasional.
Baca Juga: Mensesneg ungkap pesan khusus Megawati untuk Prabowo: Jaga pemerintahan dan persatuan
Sastra Indonesia saat ini berada dalam fase 'revolusi' yang menarik. Retrospeksi mengajarkan kita tentang akar, nilai, dan standar yang telah terbangun.
Resolusi, yang didorong oleh perspektif literasi digital, menuntut kita untuk adaptif, inovatif, dan berani menembus batas-batas konvensional.
Literasi digital bukan ancaman, melainkan jembatan yang memungkinkan sastra Indonesia untuk terus hidup, berkembang, dan mencapai khalayak yang lebih luas, memastikan relevansinya di masa depan yang serba terhubung.
Ini adalah peluang besar untuk memperkuat posisi sastra Indonesia sebagai bahasa yang dinamis, relevan, dan berdaya saing di tengah perubahan global (Journal of Aspirasi, 2024).
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Sastra dan puisi, refleksi perjalanan menghibur jiwa yang sepi
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan