Selain tali sling, warga juga memanfaatkan jembatan tali sederhana sebagai alternatif menyeberang, meski risikonya tak kalah besar.
Menuai apresiasi warganet
Aksi guru tersebut menuai apresiasi luas dari warganet. Banyak yang memuji dedikasi para pendidik yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi berbahaya.
“Perjuangan guru demi mengajarkan murid-muridnya patut diapresiasi,” tulis akun @Hen***.
“Semoga selalu diberi keselamatan dan keberkahan,” komentar akun @ind***.
“Beginilah perjuangan mencerdaskan anak bangsa,” tulis warganet lainnya.
Tak sedikit pula yang berharap pemerintah segera menyediakan alat pengaman seperti pelampung dan helm bagi warga yang harus menyeberangi sungai setiap hari.
Akses darurat jadi nadi kehidupan warga Ketol
Tali sling yang digunakan warga merupakan inisiatif masyarakat setempat dari kabel listrik PLN yang dimodifikasi.
Meski berisiko tinggi, akses darurat ini menjadi satu-satunya penghubung antar desa di Kecamatan Ketol.
Selain untuk mobilitas warga dan guru, tali sling juga dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian seperti durian, kopi, cabai, hingga beras ke pasar.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan infrastruktur pascabencana masih menjadi tantangan besar bagi warga Aceh Tengah.
Artikel Terkait
Bukan Rp150 juta, warga Aceh Timur buktikan sumur bor pascabanjir bisa dibuat Rp15 juta
Di balik lezatnya durian ketol Aceh, ada perjuangan warga lewati jembatan putus pascabanjir
Tanpa seragam pascabanjir, anak-anak Aceh Tamiang tetap semangat jalani hari pertama sekolah
Tali sling jadi akses hidup warga Ketol Aceh Tengah, sejumlah desa masih terisolir 40 hari pascabanjir
'Saya mau pulang ke mana?' Pilu warga Pidie Jaya usai rumah hancur diterjang banjir dan bantuan hilang
Meski di wilayah kota, warga Aceh Tamiang mengaku krisis air minum pascabanjir
Rakit jadi satu-satunya akses, relawan bidan nyaris terseret arus Sungai Kala Ili Aceh Tengah