Tentang gambar yang kau tulis
: Untuk Aidil Adhana Audia Rhayya
Nak, katamu kau membuat kacang dari pulpen yang berwarna biru
Bulat bulatan-bulatan saling menimpa berangkai bersama wajahmu yang selalu menempel di dinding kamar
Baris demi baris beruntun hingga akhirnya selesai kau urut meski tak beratur
Nak, katamu kau membuat garis-garis semirif alif yang biasa diajarkan ibu
Rapi, berbaris panjang menembus alis matamu yang hitam
Aku tak bisa menerka, saat matamu duduk dan menanyakan kapan kita akan memelihara burung: apakah malam ini akan berlanjut mengurai cerita terdahulu saat angin membawa tubuh ini mengunjungi lembaran-lembaran kertas buram
Baca Juga: 5 Provinsi yang beri pemutihan pajak kendaraan, salah satunya Jawa Barat
Aku tulis nama itu dalam tubuhmu, nak
Nama yang selalu berbaring dalam kelopak mata ibumu dan selalu hadir dalam malam-malam yang selalu ditemani suara jangkrik.
Tulislah nama itu dalam bulatan dan garis alif sebelum selesai kau menulis
Nak, kau lupa dimana kau simpan tutup pulpen itu ya?
Tidak apa, asal jangan kau lupa cerita-cerita yang ibumu bacakan sebelum tidur, seperti malam ini.
November 2019
Baca Juga: KPU RI sebut debat Pilkada 2024 akan dilaksanakan tiga kali
Episode ‘hujan
: Desember 2020
Dan akhirnya malam menyebutmu dengan nama hujan
Hangat, menjelma suara jangkrik
bisik angin mengalun serupa nyanyian daun
ringkih punggung menyapa dada dalam dalam
dan rambutmu menjelma secangkir kopi hangat
Aku belum bisa menerka kapan kau akan menjemputku sebagai pahlawan
dengan mengenakan jeans basah dan kemeja hitam
kau masih belum mengenalku
Malam masih dalam hujan
suaramu masih terdengar merdu menyelinap melalui sela-sela jendela berbaring di atas meja dan bercampur air kopi hangat.
matamu masih mengisyaratkan pertanyaan itu, namun aku masih menikmati berita-berita di televisi, seperti kau melempar pertanyaanku tempo hari
Bau kaos kaki basah
Celana jeans basah
Masih terurai hangat
Dan kau masih belum juga mengenaliku.
Garden View, Desember 2022