Penyair Widji Thukul dan tujuh puisi perlawanan terhadap ketidakadilan

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 1 Februari 2023 | 22:59 WIB
Penyair Wiji Thukul
Penyair Wiji Thukul

GENMILENIAL.ID - Widji Thukul dikenal sebagai seorang penyair dan juga aktivis yang kerap melawan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh rezim orde baru.

Puisi-puisi Widji Thukul dikenal cukup kritis dan juga mampu menyuarakan berbagai hal persoalan dan ketidakadilan saat itu.

Di zaman orba, kritik terhadap pemerintah lewat puisi sudah dianggap sebagai sebuah pemberontakan, para aktivis yang vokal dengan gagasan demokrasi dianggap berbahaya dan mengganggu ketertiban umum.

Tahun 1998, Widji Thukul hilang dan tidak pernah diketahui keberadaanya hingga saat ini, namun karya-karya puisinya masih abadi, bisa dinikmati, dan selalu bergema disetiap simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Berikut 7 Puisi Widji Thukul :

1. Di bawah selimut kedamaian palsu

Apa guna punya ilmu
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
Berdiri gagah
Kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa
Rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa guna banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu

Baca Juga: Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia yang dihilangkan dalam sejarah, berikut perjalanan hidupnya

2. Nyanyian akar rumput

Jalan raya dilebarkan
Kami terusir
Mendirikan kampung
Digusur
Kami pindah-pindah
Menempel di tembok-tembok
Dicabut
Terbuang
Kami rumput
Butuh tanah
Dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

Juli 1988

3. Sajak suara

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
Mulut bisa dibungkam
Namun siapa mampu menghentikan Nyanyian bimbang
Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
Disana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Sesungguhnya suara itu bukan perampok
Yang ingin merayah hartamu
Ia ingin bicara
Mengapa kau kokang senjata
Dan gemetar ketika suara-suara itu
Menuntut keadilan?
Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajari aku bertanya
Dan pada akhirnya tidak bisa tidak
Engkau harus menjawabnya
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan

4. Penyair

Jika tak ada mesin ketik
Aku akan menulis dengan tangan
Jika tak ada tinta hitam
Aku akan menulis dengan arang
Jika tak ada kertas
Aku akan menulis pada dinding
Jika aku menulis dilarang
Aku akan menulis dengan
Tetes darah!

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X