Mengenal H.B. Jassin, ini perjalanan singkat hidupnya

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Rabu, 19 April 2023 | 13:15 WIB
HB. Jassin (Instagram @shalim89wijaya)
HB. Jassin (Instagram @shalim89wijaya)

Ia dituduh menghina Islam karena bertanggung jawab menerbitkan novel Kipandjikusmin "Langit Makin Mendung" di majalah Sastra pada Agustus 1968.

Petisinya "Pembelaan Imajinasi" adalah salah satu dokumen sejarah terpenting dalam kesusastraan Indonesia. Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, ia diberhentikan dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1965, beberapa bulan sebelum pecahnya G-30-S/PKI. H.B. 

Jassin lulus dari HIS Gorontalo pada tahun 1923, dari HBS-B selama 5 tahun di Medan pada tahun 1939 dan dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1957.

Baca Juga: Bertemu para PKH, Kang Jimat minta SDM PKH edukasi warga agar bisa mandiri

Ia kemudian memperdalam ilmunya di bidang studi banding di Universitas Yale, AS, pada 1958-1959. Di bidang sastra Indonesia, ia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia pada tahun 1975.

Menurut Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, mengatakan saat itu pengetahuan masyarakat tentang sastra Indonesia didasarkan pada H.B. jasin.

H.B. Jassin sangat penting dalam perkembangan sastra Indonesia melalui penulisan esai dan kritik sastra. Sebagai reviewer, H.B. Yassin adalah orang pertama yang membela Chairil Anwar.

Hal itu ia lakukan pada tahun 1956 ketika Chairil Anwar dituduh melakukan plagiarisme dalam bukunya Chairil Anwar Sang Penyair Angkatan 45. Ketertarikannya pada bidang ini dimulai pada awal 1940-an.  

H.B. Jassin bekerja di Kantor Asisten Residen Gorontalo tahun 1939, tahun 1940 sampai 1942 sebagai redaktur Balai Pustaka, tahun 1953 sampai 1959 sebagai guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sebagai guru besar madya di fakultas tersebut. 

Dari tahun 1954 hingga 1973 ia bekerja sebagai pejabat di Institut Bahasa Nasional (sekarang Pusat Bahasa) di Kementerian Pendidikan.

Pernah menjadi redaktur majalah Poedjangga Baroe 1940-1942, Pandji Poestaka 1942-1945, Pantja Raja 1945-1947, Mimbar Indonesia 1947-1956, Zenith 1951-1954, Bahasa dan Budaya -16 91955, Art. 1961 -1964 dan 1967-1969, Sains, Buku Kita dan Cakrawala tahun 1975-1980-an.

Menurut Sapardi Djoko Damono, dalam banyak ulasannya Jassin ingin memuji tren baru dalam sastra baru, tetapi dalam karya kreatifnya ia sama sekali tidak tertarik pada reformasi.

Baca Juga: 10 puisi pilihan karya Remy Sylado, lihat di sini!

Ia menulis cerpennya dalam Poedjangga Baroe dengan sederhana, mencatat peristiwa yang terjadi di sekitarnya dengan beberapa komentar. Cerita pendeknya ditulis dan diterbitkan dalam tiga era.

H.B. menulis buku sastra. Cukup banyak yang ia tulis, antara lain Lot 45 (1951), Penyair Tifa dan Daerahnya (1952), Sastra Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai Jilid I-IV (1954, 1967; dicetak ulang 1985), Sastra Dunia Terjemahan Indonesia (1966 ). ) Percikan Sastra 1968: Akuntabilitas (1970).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X