Heboh kritik Dedi Mulyadi soal Aqua, pakar hidrogeologi: Semakin dalam justru semakin murni

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:13 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), melakukan sidak ke PT Tirta Investama (Aqua) di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Senin, 20 Oktober 2025 (Youtube.com/Kang Dedi Mulyadi Channel)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), melakukan sidak ke PT Tirta Investama (Aqua) di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Senin, 20 Oktober 2025 (Youtube.com/Kang Dedi Mulyadi Channel)

GENMILENIAL.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menjadi sorotan usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke PT Tirta Investama (Aqua) di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Senin, 20 Oktober 2025.

Dalam kunjungan tersebut, Dedi mempertanyakan sumber air yang digunakan oleh pabrik Aqua yang disebut berasal dari sumur bor dengan kedalaman 60 hingga 132 meter.

Ia menyinggung kemungkinan adanya dampak lingkungan, termasuk risiko 'pergeseran tanah' akibat pengambilan air tanah dalam.

Baca Juga: Mahfud MD bongkar dugaan mark up whoosh, KPK: Kami sudah bergerak kumpulkan data

“Semua daerah di Jawa Barat dari air bawah tanah? Oh iya, lalu semakin dalam airnya semakin murni, ya? Ini tidak berbahaya kalau terjadi pergeseran tanah? Awas, lho,” ujar Dedi dalam sidak itu.

Namun, pernyataan KDM tersebut justru dipatahkan oleh sejumlah pakar hidrogeologi yang menilai kekhawatiran itu tidak didukung dasar ilmiah yang kuat.

Ahli ITB dan UGM: Air tanah dalam justru lebih aman

Pakar Hidrogeologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, menjelaskan bahwa pengambilan air dari lapisan dalam atau akuifer dalam merupakan praktik yang lazim dan aman dalam industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Baca Juga: Satu dekade Hari Santri: Bupati Subang dikukuhkan jadi Panglima Santri, serukan santri melek zaman dan inovatif

“Batuan yang mengandung air bisa ditemukan di kedalaman dangkal maupun dalam. Tapi yang dangkal biasanya lebih rawan kontaminasi, baik dari toilet, selokan, maupun limbah lain,” kata Prof. Lambok.

Ia menegaskan bahwa semakin dalam sumber air, kualitasnya justru semakin baik karena terlindung dari potensi polusi permukaan.

Senada dengan itu, Guru Besar Hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Heru Hendrayana, menambahkan bahwa air tanah dangkal cenderung tidak higienis karena mudah tercemar septic tank, limbah, atau sampah rumah tangga.

“Air tanah dalam relatif lebih higienis dan sehat. Ini sebabnya industri besar seperti AMDK selalu memilih sumber air dari akuifer dalam,” terang Prof. Heru.

Baca Juga: Alex Pastoor ungkap 3 poin gagalnya proyek PSSI era Kluivert: Kami sudah mati-matian, tapi belum cukup

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X