Pada Februari 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat masih mungkin tercapai jika Washington menghentikan tuntutan yang dianggap berlebihan.
Namun Iran tetap menolak membahas program rudalnya dalam perundingan tersebut.
Yanuardi menilai program rudal Iran memiliki karakter paradoks.
Baca Juga: Gus Miftah ajak rawat kebhinekaan dalam ngabuburit lintas Iman di Gereja Sleman
“Iran punya teknologi yang cukup canggih namun dalam beberapa kasus akurasinya masih rendah. Industrinya tangguh meski bergantung pada pasokan luar,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai blokade internasional, Iran dinilai tetap mampu mengembangkan teknologi senjata yang berpotensi membawa hulu ledak nuklir.
Menurutnya, selama jaringan pasokan dari luar negeri masih berjalan dan konsep 'titik imunitas' tetap menjadi perhatian Washington, konflik asimetris ini kemungkinan akan terus berlanjut dengan rudal sebagai aktor utama dan program nuklir sebagai ancaman laten.***