Kapabilitas rudal Iran dan ancaman nuklir, ini analisis peneliti UI Yanuardi Syukur

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 8 Maret 2026 | 17:45 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia dan juga dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia dan juga dosen Antropologi Universitas Khairun

Baca Juga: THR pensiun 2026 capai 97 persen, TASPEN pangkas proses administrasi jadi 1 hari

Pada Oktober 2025, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei mengotorisasi pengembangan hulu ledak nuklir miniatur.

Iran juga disebut memiliki sekitar 441 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen yang secara teknis dapat diperkaya hingga 90 persen dalam waktu beberapa minggu.

Strategi deterrence Iran

Yanuardi menjelaskan bahwa produksi ribuan rudal oleh Iran memiliki beberapa tujuan strategis.

Pertama, sebagai kompensasi atas kelemahan kekuatan udara Iran akibat embargo senjata internasional. Kedua, penerapan doktrin 'deterrence by punishment' atau kemampuan menghukum lawan.

Baca Juga: Perang citra dan mesin uang digital yang mengaburkan fakta konflik Iran

Ketiga, sebagai alat tawar dalam diplomasi internasional. Keempat, sebagai perlindungan terhadap program nuklir mereka.

Menurutnya, keberadaan ribuan rudal konvensional ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai 'titik imunitas', di mana kekuatan tersebut mampu melindungi program nuklir Iran dari intervensi asing.

Dinamika konflik dan diplomasi

Amerika Serikat disebut merespons perkembangan tersebut dengan meningkatkan operasi militernya.

Pejabat AS bahkan memperkirakan Iran mampu memproduksi sekitar 100 rudal setiap bulan, sementara sekutu hanya memiliki sekitar enam hingga tujuh interceptor dalam periode yang sama.

Baca Juga: Delpedro Cs bebas dari kasus penghasutan demo, poster Affan Kurniawan dinilai solidaritas

Ketimpangan ini dinilai menciptakan ancaman strategis yang ingin ditekan oleh Washington melalui berbagai langkah militer.

Meski demikian, di tengah meningkatnya tensi militer, jalur diplomasi tetap berjalan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X