Produksi rudal terus meningkat
Kendati demikian, kelemahan di medan tempur tidak membuat Iran menghentikan produksi rudalnya.
Justru setelah konflik tersebut, Iran disebut mampu melakukan pemulihan stok dengan cepat.
Setelah sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa diperketat pada September 2025, Iran dilaporkan menerima sekitar 3.000 ton sodium perchlorate dari China.
Bahan tersebut dinilai cukup untuk memproduksi sekitar 500 rudal baru.
Menurut Yanuardi, langkah tersebut menunjukkan kemampuan Iran dalam melakukan manuver logistik dan diplomatik di tengah tekanan sanksi internasional.
Serangan balasan dan strategi volume serangan
Pada Maret 2026, Iran juga dilaporkan melakukan serangan balasan terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Beberapa negara di kawasan Teluk turut terdampak dalam eskalasi tersebut. Qatar dilaporkan dihantam 14 rudal dan empat drone, sementara Uni Emirat Arab menghadapi lebih dari 130 drone dan enam rudal.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Iran mengandalkan strategi volume serangan untuk membanjiri sistem pertahanan lawan.
Ancaman nuklir jadi kekhawatiran
Selain program rudal, dimensi lain yang menjadi perhatian dunia adalah potensi pengembangan senjata nuklir Iran.
Yanuardi menjelaskan bahwa Iran memang belum memiliki senjata nuklir secara resmi, namun negara tersebut dinilai telah memiliki pengetahuan dan infrastruktur yang memungkinkan produksi senjata nuklir dalam waktu relatif singkat.
Artikel Terkait
Setelah Iran-Israel, Trump incar Afrika: Klaim tengah damai Kongo-Rwanda lewat mediasi AS
Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI
Iran, obor sains Islam yang terus menyala: Perspektif Yanuardi Syukur soal kejayaan intelektual negeri para Mullah
Antara Epstein Files dan serangan ke Iran, ada benang merah politik?
Curhat WNI asal Gresik di Jerman, Evan Haydar cemas negaranya ikut pusaran perang Israel vs Iran
Iran tak goyah meski Khamenei gugur, AS-Israel terjebak konflik panjang
Konflik Israel-Iran memanas, Mahfud MD minta RI kembali tegas ke politik bebas-aktif