Pada Februari 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat masih mungkin tercapai jika Washington menghentikan tuntutan yang dianggap berlebihan.
Namun Iran tetap menolak membahas program rudalnya dalam perundingan tersebut.
Yanuardi menilai program rudal Iran memiliki karakter paradoks.
Baca Juga: Gus Miftah ajak rawat kebhinekaan dalam ngabuburit lintas Iman di Gereja Sleman
“Iran punya teknologi yang cukup canggih namun dalam beberapa kasus akurasinya masih rendah. Industrinya tangguh meski bergantung pada pasokan luar,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai blokade internasional, Iran dinilai tetap mampu mengembangkan teknologi senjata yang berpotensi membawa hulu ledak nuklir.
Menurutnya, selama jaringan pasokan dari luar negeri masih berjalan dan konsep 'titik imunitas' tetap menjadi perhatian Washington, konflik asimetris ini kemungkinan akan terus berlanjut dengan rudal sebagai aktor utama dan program nuklir sebagai ancaman laten.***
Artikel Terkait
Setelah Iran-Israel, Trump incar Afrika: Klaim tengah damai Kongo-Rwanda lewat mediasi AS
Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI
Iran, obor sains Islam yang terus menyala: Perspektif Yanuardi Syukur soal kejayaan intelektual negeri para Mullah
Antara Epstein Files dan serangan ke Iran, ada benang merah politik?
Curhat WNI asal Gresik di Jerman, Evan Haydar cemas negaranya ikut pusaran perang Israel vs Iran
Iran tak goyah meski Khamenei gugur, AS-Israel terjebak konflik panjang
Konflik Israel-Iran memanas, Mahfud MD minta RI kembali tegas ke politik bebas-aktif