Selain kekurangan sandang, warga Desa Babo juga masih harus hidup tanpa aliran listrik.
Hingga akhir Desember 2025, listrik di wilayah tersebut belum kembali menyala, membuat perkampungan warga berada dalam kondisi gelap gulita setiap malam.
Baca Juga: Masih terisolir, bantuan ke Desa Pasir Gayo Lues harus seberangi sungai deras dan jembatan tali
“Mereka butuh logistik lilin, genset, alas tidur, dan lainnya. Mereka hidup dalam gelap, sudah satu bulan,” ujar pemilik video tersebut.
“Satu bulan gelap, nggak ada lampu sampai detik ini,” lanjutnya.
Ketiadaan listrik tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak pada rasa aman, kesehatan, serta aktivitas belajar anak-anak di malam hari.
Desa Babo sempat diterjang banjir setinggi 15 meter
Menurut keterangan yang disampaikan istri Gubernur Aceh, Marlina Usman, Desa Babo menjadi salah satu wilayah terparah saat banjir bandang melanda Aceh Tamiang.
Ketinggian air saat itu bahkan dilaporkan mencapai sekitar 15 meter.
Derasnya arus banjir menyeret rumah-rumah warga, melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di lokasi dengan kondisi terbatas, sementara proses pemulihan berjalan lambat akibat sulitnya akses menuju desa tersebut.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir bandang di Sumatera menyebabkan penambahan korban jiwa.
Baca Juga: IGD RSUD Subang penuh, Bupati turun langsung cari solusi dan dorong pelayanan lebih 'Ngabret'
Hingga 26 Desember 2025, tercatat sebanyak 1.137 orang meninggal dunia dan 163 lainnya masih dinyatakan hilang.