Salah satunya dilaporkan terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebanyak 193 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG.
Kasus serupa juga dilaporkan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 352 siswa dari sejumlah sekolah dasar di Kecamatan Batukliang dilaporkan mengalami keluhan seperti muntah-muntah dan pusing setelah mengonsumsi MBG.
Sementara itu, laporan gangguan kesehatan juga muncul di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 748 santri dan pelajar dari 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, mengalami keluhan kesehatan setelah pelaksanaan MBG di sekolah mereka.
Baca Juga: Kasus hilangnya 5 jurnalis di Selat Sunda: Sisir lokasi dihentikan usai 10 hari pencarian
Berbagai laporan tersebut membuat kualitas makanan dan pengawasan dapur MBG kembali menjadi perhatian.
BGN menyatakan pemeriksaan terhadap SPPG terus dilakukan secara bertahap, sementara dapur yang tidak memenuhi standar dapat dikenai penghentian operasional.
Di sisi lain, Sudaryono menekankan bahwa kualitas bahan baku menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan dalam penyediaan makanan MBG.
Sebab, menurutnya, proses pengolahan yang dilakukan sesuai prosedur tetap tidak dapat mengatasi persoalan apabila bahan makanan yang digunakan sejak awal sudah dalam kondisi rusak.***
Artikel Terkait
Kasus keracunan MBG terus berulang, Mahfud MD desak BGN tegas proses pidana SPPG biang masalah
Diduga keracunan menu MBG basi, 137 siswa-guru SMAN 1 Tunjungan di Blora alami diare massal
Pengakuan orang tua di Pati, anaknya alami mual-muntah hingga mimisan usai diduga keracunan MBG
Usai viral keracunan massal imbas dugaan MBG basi di Pati, 59 siswa kini jalani rawat inap pada 4 RS
Kecilkan dapur MBG, perluas kesempatan usaha untuk rakyat
Kepala BPOM sebut MBG lebih dari 4 jam masuk kategori basi: Kualitas makanan menurun
Dokter RSCM pastikan siswi Karo yang diduga keracunan MBG tak hilang ingatan: Memori jangka pendek dan panjangnya baik