Blokade dicabut, dunia masih menahan napas di tengah ketegangan AS-Iran

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:47 WIB
Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Pusat
Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Pusat

Meski ada wacana pencabutan blokade, ancaman konflik tetap membayangi. Iran tidak hanya berpotensi mengganggu Selat Hormuz, tetapi juga Selat Bab al-Mandeb melalui kelompok proksinya.

Jika kedua jalur ini terganggu, dampaknya akan signifikan terhadap perdagangan energi dunia. Harga minyak mentah Brent bahkan masih bertahan di atas USD 92 per barel.

Baca Juga: Akun medsos RSUD AWS Samarinda digeruduk warganet usai viral dugaan malpraktik pasien jantung

“Meski blokade dicabut, api permusuhan masih membara di bawah permukaan,” tegas Yanuardi.

Ia menambahkan bahwa situasi ini berpotensi memicu lonjakan inflasi global jika konflik meluas.

Isu nuklir belum tersentuh

Yanuardi juga menyoroti bahwa inti konflik, yakni program nuklir Iran, belum dibahas secara serius dalam negosiasi yang berlangsung.

“Isu nuklir yang menjadi jantung konflik sama sekali belum tersentuh secara substantif,” katanya.

Baca Juga: Detik-detik banjir bandang terjang 5 desa di Gorontalo, ratusan rumah hingga kios warga rusak berat

Hal ini menunjukkan bahwa kesepakatan yang sedang dibangun kemungkinan hanya bersifat sementara, bukan solusi jangka panjang.

Di tengah negosiasi, langkah Amerika Serikat menyita aset kripto Iran senilai USD 1 miliar justru memperkeruh situasi. Sementara itu, Iran juga terus memperkuat kemampuan militernya.

Dunia dalam fase menunggu

Menurut Yanuardi, kondisi global saat ini berada dalam fase yang sangat rentan.

“Dunia sedang berada dalam permainan menunggu yang paling berbahaya sejak konflik ini dimulai,” ujarnya.

Baca Juga: WALHI hingga akademisi soroti pencemaran Teluk Buli, pemerintah diminta audit aktivitas tambang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X