Meski ada wacana pencabutan blokade, ancaman konflik tetap membayangi. Iran tidak hanya berpotensi mengganggu Selat Hormuz, tetapi juga Selat Bab al-Mandeb melalui kelompok proksinya.
Jika kedua jalur ini terganggu, dampaknya akan signifikan terhadap perdagangan energi dunia. Harga minyak mentah Brent bahkan masih bertahan di atas USD 92 per barel.
Baca Juga: Akun medsos RSUD AWS Samarinda digeruduk warganet usai viral dugaan malpraktik pasien jantung
“Meski blokade dicabut, api permusuhan masih membara di bawah permukaan,” tegas Yanuardi.
Ia menambahkan bahwa situasi ini berpotensi memicu lonjakan inflasi global jika konflik meluas.
Isu nuklir belum tersentuh
Yanuardi juga menyoroti bahwa inti konflik, yakni program nuklir Iran, belum dibahas secara serius dalam negosiasi yang berlangsung.
“Isu nuklir yang menjadi jantung konflik sama sekali belum tersentuh secara substantif,” katanya.
Baca Juga: Detik-detik banjir bandang terjang 5 desa di Gorontalo, ratusan rumah hingga kios warga rusak berat
Hal ini menunjukkan bahwa kesepakatan yang sedang dibangun kemungkinan hanya bersifat sementara, bukan solusi jangka panjang.
Di tengah negosiasi, langkah Amerika Serikat menyita aset kripto Iran senilai USD 1 miliar justru memperkeruh situasi. Sementara itu, Iran juga terus memperkuat kemampuan militernya.
Dunia dalam fase menunggu
Menurut Yanuardi, kondisi global saat ini berada dalam fase yang sangat rentan.
“Dunia sedang berada dalam permainan menunggu yang paling berbahaya sejak konflik ini dimulai,” ujarnya.
Baca Juga: WALHI hingga akademisi soroti pencemaran Teluk Buli, pemerintah diminta audit aktivitas tambang
Artikel Terkait
Konflik Israel-Iran memanas, Mahfud MD minta RI kembali tegas ke politik bebas-aktif
Kapabilitas rudal Iran dan ancaman nuklir, ini analisis peneliti UI Yanuardi Syukur
Mojtaba Khamenei jadi pemimpin Iran, peneliti UI Yanuardi Syukur prediksi konflik Timur Tengah memanas
China dan Rusia dalam perang Iran 2026: Dukungan terukur tanpa keterlibatan militer
Negara teluk ‘diam’ hadapi Iran, peneliti UI ungkap strategi bertahan di tengah ancaman
Pakistan jadi penengah perang Iran-AS, pengamat UI soroti risiko gagal dan tekanan internal
Selat Hormuz kembali ditutup Iran, AS dituding langgar kesepakatan