GENMILENIAL.ID - Polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) 2026 masih menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Sorotan publik tertuju pada kasus yang menimpa Cathlyn Yvaine Lesmana, siswi SMAS Cerdas Bangsa Makassar yang gagal melaju ke tingkat nasional.
Sebelumnya, posisi Cathlyn sebagai perwakilan Sulsel disebut digantikan oleh peserta lain.
Hal ini memicu berbagai spekulasi, termasuk dugaan adanya diskriminasi lantaran latar belakang asal daerah hingga munculnya isu 'peserta titipan'.
Isu tersebut berkembang luas di media sosial dan memancing reaksi dari berbagai pihak.
Tak sedikit netizen yang mempertanyakan transparansi dan objektivitas proses seleksi Paskibraka di tingkat provinsi.
Menanggapi polemik yang terus bergulir, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi.
BPIP tepis dugaan diskriminasi
Direktur Penyelenggara Program Paskibraka BPIP Pusat, Fuad Lutfi, menegaskan bahwa proses seleksi telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku secara nasional.
“Pada prinsipnya seleksi Paskibraka di Sulawesi Selatan dilaksanakan sesuai mekanisme nasional yang berlaku,” ujar Fuad dalam keterangan resminya, Kamis, 28 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa proses seleksi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah hingga tim seleksi pusat.
Hal ini dilakukan untuk memastikan proses berjalan profesional dan objektif.
Artikel Terkait
Ikut hadiri pengukuhan 76 Paskibraka di Istana, Megawati kenang pengalaman tahun 1963
Bupati Subang kukuhkan 40 anggota Paskibraka Tahun 2025
Petugas Paskibraka Maluku Utara diganjar laptop dan uang saku dari Gubernur usai kibarkan merah putih
Dumtruk langgar jam operasional, ibu anggota Paskibraka Subang tewas tertabrak: Bupati ancam tindak perusahaan nakal
Viral! Wakil Bupati Kulon Progo jongkok ikat tali sepatu Paskibraka saat upacara 17 Agustus
522 Siswa berebut 37 kursi Paskibraka Subang 2026, Wabup tekankan seleksi ketat dan nasionalisme
Cathlyn Yvaine Lesmana Paskibraka yang alami dugaan diskriminasi, ternyata siswa berprestasi di bidang modeling