Akses ekstrem ke sekolah, guru SDN Inpres 3 Bainaa Sulteng harus seberangi 6 sungai dan jalan kaki 7 km demi mengajar

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Senin, 2 Maret 2026 | 06:58 WIB
Perjuangan untuk mengajar ke SDN Inpres 3 Terpencil Bainaa di Parigi Moutong, Sulteng (Instagram/najib_nadir)
Perjuangan untuk mengajar ke SDN Inpres 3 Terpencil Bainaa di Parigi Moutong, Sulteng (Instagram/najib_nadir)

Keterbatasan tersebut tentu berdampak pada proses belajar mengajar, baik dari sisi fasilitas pembelajaran maupun keselamatan tenaga pendidik.

Jalan kaki 7 kilometer dan medan menantang

Perjalanan menuju sekolah hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak ada kendaraan yang bisa melintasi jalur tersebut karena kondisi jalan yang belum memadai.

Baca Juga: Bupati turun main film, Subang diproyeksikan jadi panggung promosi lewat 'Sisa Waktu Senja'

“Full jalan kaki sejauh 7 kilometer, butuh 2 sampai 3 jam perjalanan,” ungkapnya.

Medan yang dilalui pun tidak mudah. Selain menyeberangi sungai, para guru harus melewati puluhan tanjakan dan jalur berbatu yang licin saat musim hujan.

“Jalurnya cukup berat, melewati 6 sungai dan selain sungai, ada puluhan tanjakan yang perlu dilewati,” jelasnya.

Kondisi ini menjadi tantangan nyata bagi para guru yang tetap memilih mengabdi demi keberlangsungan pendidikan anak-anak di pelosok.

Baca Juga: REKA Bogor dan Wali Kota Dedie sepakat perkuat langkah menuju jejaring kota kreatif UNESCO

Harap perhatian pemerintah

Melalui kolom komentar, pengunggah video berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong terhadap kondisi sekolah tersebut.

“Yang terhormat Bapak Bupati Parigi Moutong, mohon bantuannya. Bantu kami tag pemerintah terkait dan semoga bisa mendapat perhatian,” tulisnya.

Ia juga menyinggung bahwa sekolah tersebut tidak mendapatkan tunjangan daerah terpencil karena status desa yang kini dikategorikan sebagai desa berkembang.

“Sekolah ini cuma satu dari sekian banyak sekolah terpencil yang tidak dapat tunjangan terpencil sebab status desa berubah jadi berkembang,” tulisnya lagi.

Baca Juga: Khamenei wafat, poros perlawanan masuki babak baru perjuangan regional

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X