REKA Bogor dan Wali Kota Dedie sepakat perkuat langkah menuju jejaring kota kreatif UNESCO

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Minggu, 1 Maret 2026 | 23:05 WIB
Pertemuan REKA Bogor dengan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (Dok. Istimewa)
Pertemuan REKA Bogor dengan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Rembug Kreatif (REKA) Bogor menggelar audiensi bersama Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, guna memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memantapkan langkah menuju jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 90 menit tersebut membahas strategi penguatan subsektor ekonomi kreatif, kesiapan infrastruktur, hingga arah penetapan identitas kreatif Kota Bogor di tingkat nasional dan internasional.

Ketua REKA Bogor, Georgian Marcello, dalam pemaparannya menegaskan bahwa fondasi ekonomi kreatif Kota Bogor telah menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Baca Juga: Khamenei wafat, poros perlawanan masuki babak baru perjuangan regional

Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ekonomi kreatif tercatat mencapai 5,72 persen dengan serapan tenaga kerja sekitar 57.000 orang.

Dalam lima tahun terakhir, REKA Bogor disebut konsisten menjalankan berbagai program penguatan kapasitas, festival lintas subsektor, aktivasi ruang kreatif, hingga pengembangan jejaring kolaborasi antar pelaku.

Bogor sendiri telah ditetapkan sebagai Kota Seni Pertunjukan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I).

Penetapan tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Uji Petik PMK3I oleh Pemerintah Kota Bogor bersama perwakilan ekosistem ekonomi kreatif pada Rabu, 26 Februari 2026.

Baca Juga: Tiga bulan pascabanjir Aceh, anak-anak bertahan belajar di ruko dan tenda darurat

REKA Bogor menilai capaian tersebut menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh menuju jejaring Kota Kreatif UNESCO.

“Kang, Bogor arahnya ke Kota Seni Pertunjukan atau Kota Gastronomi?” tanya Georgian dalam audiensi tersebut.

Menanggapi hal itu, Dedie A Rachim menegaskan bahwa berbagai sektor berpotensi dikembangkan, namun tantangan utama terletak pada kesiapan infrastruktur dan suprastruktur pendukung.

“Di luar kuliner ada tantangannya. Kita beda sama Jogja, Bandung, Bali. Kita gak ada lembaga pendidikannya. Enggak ada sekolah seni, enggak ada sekolah desain grafis, enggak ada sekolah arsitektur, enggak ada sekolah multimedia, enggak ada sekolah teater. Maka siapkanlah infrastruktur dan suprastrukturnya,” ujar Dedie.

Baca Juga: Viral penerbangan Timur Tengah tertunda usai konflik Israel vs Iran, WNI terjebak di Madinah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X