Khamenei wafat, poros perlawanan masuki babak baru perjuangan regional

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 1 Maret 2026 | 21:12 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia dan juga dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia dan juga dosen Antropologi Universitas Khairun

GENMILENIAL.ID – Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 mengguncang fondasi Poros Perlawanan yang selama hampir empat dekade dibangunnya sebagai jaringan ideologis, politik, dan militer lintas negara di Timur Tengah.

Dalam wawancara ekslusif bersama GenMilenial.id, Minggu 1 Maret 2026, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menilai bahwa poros tersebut tidak bisa hanya dipahami sebagai aliansi geopolitik semata.

Menurutnya, Poros Perlawanan merupakan sistem makna yang diikat oleh simbol keagamaan, ritual kesyahidan, serta narasi panjang tentang perlawanan terhadap hegemoni Barat.

Baca Juga: Tiga bulan pascabanjir Aceh, anak-anak bertahan belajar di ruko dan tenda darurat

“Jaringan ini bukan sekadar aliansi militer-politik, tetapi juga sistem simbolik yang mengikat para pengikutnya dari Lebanon hingga Yaman,” ujar Yanuardi.

Krisis representasi dan simbol baru

Respons paling vokal datang dari Hizbullah Lebanon. Sejak Januari 2026, Pemimpin Hizbullah Sheikh Naim Kassem telah menyatakan akan membalas jika Khamenei diserang. Kini, janji itu berada dalam ujian besar.

Dari perspektif antropologi, Yanuardi menjelaskan konsep communitas yang dikembangkan Victor Turner, yakni solidaritas kolektif yang lahir dari pengalaman ritual dan kebersamaan mendalam.

Dalam konteks Poros Perlawanan, ritual seperti ziarah makam syuhada, perayaan Asyura, dan sumpah setia kepada Wali Faqih menjadi perekat identitas kolektif.

Baca Juga: Viral penerbangan Timur Tengah tertunda usai konflik Israel vs Iran, WNI terjebak di Madinah

Ketika figur sentral seperti Khamenei wafat, kelompok tersebut menghadapi apa yang disebut krisis representasi, yaitu kehilangan orientasi simbolik yang selama ini menjadi sumber legitimasi perjuangan.

“Namun kehilangan simbol bisa digantikan simbol baru selama ideologi revolusi tetap menjadi titik temu loyalitas,” jelasnya.

Loyalitas, patronase, dan pergeseran arah

Korps Garda Revolusi Islam Iran merespons dengan retorika keras dan menyebut kematian Khamenei sebagai kesyahidan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X