Air bersih masih sulit didapat
Tak hanya persoalan trauma, warga juga masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, salah satunya air bersih.
Dalam unggahan yang sama, disebutkan bahwa warga harus membawa ember dan berjalan kaki cukup jauh demi mendapatkan air untuk memasak dan bertahan hidup.
“Air bersih pun nggak tinggal buka keran, mereka harus bawa ember, jalan kaki cukup jauh, demi bisa masak dan bertahan,” tulisnya.
Kelangkaan air bersih disebut masih dirasakan di sejumlah titik terdampak. Kondisi ini menambah berat perjuangan para penyintas yang tengah berupaya menata kembali kehidupan mereka.
Baca Juga: Viral siswa SD di Parigi Moutong seberangi sungai tanpa jembatan, pilih akses aman dibanding MBG
Di tengah situasi tersebut, relawan dari berbagai daerah terus berdatangan untuk membantu pemulihan.
Sementara itu, perhatian dan dukungan dari berbagai pihak diharapkan terus mengalir agar proses pemulihan fisik dan psikologis warga Aceh Tamiang dapat berjalan lebih cepat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga trauma yang membutuhkan waktu dan perhatian serius untuk pulih.***
Artikel Terkait
Bertahan 12 hari di rooftop saat banjir Aceh Tamiang, kisah warga saling jaga dan saling bantu
Sempat viral di medsos, cerita warga Aceh Tamiang bertahan di SPBU saat banjir bandang: Enam hari tanpa makan
Sempat trauma usai bencana, ibu suarni di Aceh Tengah menangis saat kembali ke area rumahnya yang hilang tersapu longsor
Meski terendam lumpur dan berbau, warga Aceh Tamiang pilah gabah pascabanjir untuk bertahan hidup
Gelondongan kayu bekas banjir terbakar di Aceh Utara saat dini hari, warga berhamburan ke lokasi
Jembatan apung di Sawang Aceh Utara hampir rampung, warga tak perlu bayar Rp20 ribu naik getek lagi
Relawan di Aceh Utara haru dapat sekantong jeruk nipis dari warga Geudumbak yang masih mengungsi