Tak hanya warga, relawan tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di lokasi juga mengeluhkan sulitnya akses air bersih. Padahal air sangat dibutuhkan untuk penanganan pasien.
Baca Juga: Akses jalan putus pascabanjir, anak-anak di Aceh Utara kesulitan berangkat sekolah
“Air adalah sumber kehidupan. Bayangkan kalau ada pasien rawat, bagaimana kondisinya. Nakes harus ikut turun ambil air ke tengah hutan,” tulis akun tersebut.
Dalam video terlihat relawan membawa jeriken air menggunakan ambulans demi memenuhi kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.
Ribuan warga masih mengungsi
Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bener Meriah, hingga kini sebanyak 2.116 warga masih mengungsi akibat banjir bandang dan longsor.
Baca Juga: 3.500 Rumah terendam banjir di Subang, Bupati Reynaldy desak BBWS segera normalisasi sungai
Para pengungsi tersebar di lima kecamatan, yakni:
- Pintu Rime Gayo: 431 jiwa
- Timang Gajah: 1.166 jiwa
- Gajah Putih: 84 jiwa
- Wih Pesam: 319 jiwa
- Mesidah: 116 jiwa
Sementara itu, pembangunan hunian sementara (huntara) terus dikebut. Tercatat 914 unit huntara sedang dibangun di 35 titik di 10 kecamatan dan ditargetkan rampung sebelum Ramadan.
Namun hingga kini, persoalan air bersih masih menjadi masalah paling mendesak bagi warga terdampak banjir di Bener Meriah.***
Artikel Terkait
Jalur terputus hingga lewati tali sling, perjuangan relawan tembus desa terisolir di Aceh Tengah
Hampir dua bulan pascabanjir, Aceh Tamiang kini berselimut debu dan terancam ISPA
55 Hari pascabanjir, rumah warga Pidie Jaya masih tertimbun lumpur: Sebulan lagi Ramadan
Meski jadi korban banjir, warga Pidie Jaya ini tetap masak di dapur umum: Kami iba kalau nggak ada yang masak
Cerita warga Meureudu Pidie Jaya saat banjir datang: Buka pintu, air langsung masuk
Petani Aceh Utara tetap menanam padi meski lumpur setinggi pinggang
Akses jalan putus pascabanjir, anak-anak di Aceh Utara kesulitan berangkat sekolah