Akses jalan terputus, perjuangan nakes menembus desa terisolir di Linge Aceh Tengah lewati sungai berarus deras

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Jumat, 16 Januari 2026 | 23:24 WIB
Perjuangan warga dan relawan di Kecamatan Linge saat harus menyeberangi Sungai Kala Ilie dengan penyeberangan seadanya (Instagram/lingkaran_gayo)
Perjuangan warga dan relawan di Kecamatan Linge saat harus menyeberangi Sungai Kala Ilie dengan penyeberangan seadanya (Instagram/lingkaran_gayo)

Warga secara bergantian membantu menarik dan menahan tali saat nakes menyeberang, agar tidak terseret arus.

Dalam unggahan lain di akun TikTok @ikas.mida, terlihat alternatif jalur berupa jembatan tali darurat yang dibangun secara swadaya.

Baca Juga: Baskara Putra luruskan stigma Aksi Kamisan, tegaskan perjuangan HAM bukan isu lima tahunan

Jembatan tersebut hanya terdiri dari tali dan pijakan sederhana, namun menjadi satu-satunya harapan bagi warga dan relawan untuk berpindah desa.

Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya akses transportasi pascabencana, sekaligus menegaskan tingginya risiko yang harus dihadapi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Lima desa masih terisolir pascabanjir

Sejak banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025, hingga kini masih terdapat lima desa di Kecamatan Linge yang terisolir, yakni Desa Linge, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, dan Kute Reje.

Sekitar 2.000 jiwa di wilayah tersebut belum dapat beraktivitas normal lantaran dua akses utama, Jembatan Kala Ilie dan Jembatan Reje Payung, putus total diterjang banjir.

Baca Juga: Pemulihan pertanian jadi kunci hidup 80 persen warga, influencer Virdian Aurellio soroti kondisi petani Aceh Tamiang pascabanjir

Akibatnya, distribusi logistik dan bantuan kesehatan harus dilakukan secara estafet, baik dengan melansir barang melewati jembatan darurat, menggunakan jalur sungai, maupun bantuan udara.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 22 Januari 2026 mendatang.

Namun hingga kini, warga masih berharap adanya percepatan pemulihan infrastruktur agar akses pelayanan dasar, terutama kesehatan, dapat kembali berjalan normal.

Perjuangan para nakes ini menjadi potret nyata dedikasi di tengah keterbatasan, sekaligus pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal bantuan logistik, tetapi juga soal membuka kembali akses kehidupan.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X