“Pengiriman dokter itu harus tepat, karena masing-masing bencana itu berbeda prioritasnya. Jadi, banjir itu harus dokter yang tepat dengan situasi banjir,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan medis dalam bencana banjir berbeda dengan gempa bumi atau pandemi.
Penyakit yang muncul umumnya berkaitan dengan air, seperti gangguan paru-paru, pencernaan, kulit, dan mata.
“Lini pertama itu penyakit-penyakit yang disebabkan oleh banjir. Jadi yang harus dikirim itu misalnya dokter penyakit dalam, paru, mata, dan kulit,” tegasnya.
Baca Juga: Perayaan Natal berlangsung, Kang Rey imbau warga dan wisatawan jaga kondusivitas Subang
Menkes: 300 Puskesmas akan kembali beroperasi
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa sekitar 300 Puskesmas yang terdampak banjir di Sumatera ditargetkan segera kembali beroperasi normal.
Pemulihan infrastruktur layanan kesehatan menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Selain perbaikan bangunan, Kemenkes juga akan mengirimkan peralatan kesehatan tambahan agar pelayanan medis bagi warga terdampak dapat berjalan lebih optimal di masa pemulihan.***
Artikel Terkait
Tangis pilu nenek di Aceh Tamiang, tabungan umrah hasil nabung receh hanyut tersapu banjir
Momen haru penyintas banjir Aceh Tamiang pilih ambil bantuan secukupnya: Korban bukan kami sendiri
Tolak terisolasi, warga Rusip Antara gotong royong bangun jembatan darurat tanpa alat berat
Ferry Irwandi ingatkan risiko syok pasar usai kirim cabe dari Aceh: Rantai suplai jangan rusak
Sherly Annavita bongkar realita distribusi bantuan bencana Sumatera: Akses terjal hingga minim komando terpusat
Di tengah banjir Aceh Tamiang, kisah ayah selamatkan kucing peliharaan ini bikin haru warganet
Sawah dan rumah hancur, begini kondisi Garoga Tapsel tiga pekan setelah dihantam banjir bandang kayu gelondongan