Ia menyebut keberadaan alat berat seperti eskavator dan bekho menunjukkan adanya pembiaran dari pihak berwenang serta keterlibatan unsur berkuasa.
Baca Juga: Pengoplos BBM di Subang ditangkap: Campur Thinner, Pertalite dan Pertamax, dijual ke warung eceran
“Kalau sudah ada eskavator, ada bekho, pasti ada pembiaran di sana. Ada korporasi yang terlibat, ada penegak hukum yang mendiamkan,” lanjutnya.
Aulia menegaskan bahwa pembiaran ini sama saja dengan merusak ekosistem dan ruang hidup masyarakat.
Dugaan keterlibatan pejabat hingga penegak hukum
Aulia menilai bahwa rangkaian indikasi tersebut memperkuat dugaan terjadinya korupsi dalam pengelolaan kawasan hutan di Sumatera.
“Sudah dapat dipastikan terjadi korupsi di sana. Patut diduga karena bagaimana ada pembiaran bertahun-tahun dan tidak ada yang tahu?” ujarnya.
Baca Juga: Akses masih terputus, warga Bener Meriah tempuh 3–4 jam jalan kaki demi dapat bantuan beras
Ia menegaskan bahwa aktor yang terlibat bukan hanya pelaku lapangan, tetapi juga pihak yang memiliki otoritas.
“Pasti ada yang terlibat, baik itu pejabat, penegak hukum, atau siapapun yang mempunyai kekuasaan yang membiarkan atau mungkin menjadi backing pelaku illegal mining atau illegal logging itu,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
BNPB sebut Tapanuli Selatan terparah pascabanjir akibat kayu gelondongan terbawa arus
Material kayu gelondongan terbawa banjir di Sumatera, DPR sebut ada masalah serius di hulu dan desak evaluasi kehutanan
Asal kayu gelondongan di banjir Sumatera mulai dibidik Polri hingga Kejagung, Kemenhut sebut bentuk tim gabungan untuk investigasi
Menteri LH Hanif Faisol tindak tegas dugaan kayu gelondongan perparah banjir Sumatera
Bocah Aceh ceritakan detik-detik saat banjir bandang, mengira hari itu adalah hari terakhir hidupnya
'Uang tidak berharga, makanan yang penting’: Suara pengungsi Aceh Tamiang di tengah gelapnya tenda darurat
Akses masih terputus, warga Bener Meriah tempuh 3–4 jam jalan kaki demi dapat bantuan beras